Minggu, 25 Oktober 2009

The Secret Of Two Heart



Oleh: Thiya Renjana

Sinopsis:

            Echa nggak tahu kenapa sekarang dia mulai menyukai Altaf, kakak angkatnya. Seperti dia yang tak pernah tahu mengapa Altaf selalu mengganggu mimpi malamnya. Juga sama gak tahunya bahwa sebenarnya Altafpun pernah sangat mengharapkannya.



            Malam ini rembulan bersinar sangat terang. Bintang-bintang berkelip indah seakan-akan tahu bahwa di hatiku telah bermuara cinta untuk orang yang sangat istimewa bagiku.
            Entah mengapa aku bisa mencintai dirinya yang selama ini serumah denganku. Dia anak teman papaku. Ortunya meninggal karena kecelakaan, akhirnya ia tinggal bersama kami.
            Awalnya aku senang aja, karena aku jadi punya saudara. Cowok, lagi! Tapi beranjak dewasa aku mulai mengaguminya dan ujung-ujungnya aku mencintainya. Kalau jam tayang saja bisa berubah, kenapa hatiku nggak? Tapi sayangnya dia hanya menganggapku sebagai seorang adik. Karena itulah aku memendam perasaan ini dan hingga detik ini nggak ada yang tahu kecuali yang menganugrahkan cinta ini dan diriku sendiri.
            “Ngapain, Cha?” Lamunanku tersentak. Tanpa kusadari orang yang aku fikirkan telah berdiri di sampingku.
            “Eh, Kak Al…”
            “Lagi ngapain, Cha?” Kak Altaf mngulangi pertanyaannya.
            “Lagi ngerjain PR.”
            “Ngerjain PR apa mikirin Fachry?”
            “Fachry? Yang bener aja Echa mikirin Fachry, Kak!”
            “Jangan boong deh, Cha. Kakak liat selama ini kamu deket banget sama Fachry.”
            “Iya, sich. Tapi kami cuma temenan kok.”
            “Itu menurut kamu. Tapi menurut Fachry lain.”
            “Biarin! Yang jelas Echa nggak.”
            “Kamu mau nggak, nikah ama Fachry?”
            “Ya nggaklah.” ‘Tapi kalau sama Kak Altaf, no problem,’ batinku.
            “Kalau sama Kakak, gimana?” Kata Kak Altaf seakan tahu isi hatiku. Kalau kujawab tidak, berarti aku munafik. Kalau kujawab iya, aku malu.
            “Nggak, Kak.”
            “Apa?” Ada sederet kekecewaan di wajahnya yang sempat tertangkap mataku.
            “Kak Al…. Kakak cuma becanda, kan?” Kak Altaf tak menjawab, hanya mengangguk pelan sambil berlalu dari kamarku. Saat itu baru aku sadar atas apa yang aku katakan tadi. Aku cuma bisa menyesalinya.

Dosakah aku bila dicintai
Bila jalinan hati kini membelenggu
Tapi haruskah diriku pasrah diriku merana
Memang cinta tiada bermata
Bisa ciptakan sedih juga bahagia
Aku kini terjerat karenanya
Susah lupakan…. Dia.
(Krisdayanti, Cahaya)
--(^_^)—
            Sore hari tadi, Fachry datang ke rumah dengan orang tuanya. Mungkin aja cuma mau silaturahmi, pikirku. Tetapi sehabis Maghrib di ruang tamu, mama memanggilku.
            “Echa..”
            “Ya, Ma?”
            “Kamu tau maksud Fachry datang ke sini sama orang tuanya tadi?”
            “Nggak, Ma.”
            “Fachry melamarmu, sayang.”
            “Apa?? Aku dilamar?”
            “Iya,” Mama mengangguk.
            “Mama menerimanya?” kataku sambil menahan tangis. Mataku terasa mulai memanas, memanas, dan semakin memanas. Dadaku sesak.
            “Mama rasa Fachry itu anaknya baik. Mama menyukainya dan Papamu setuju.”
            “Tapi, Ma. Echa nggak menyukai Fachry.” Suaraku bergetar. Seketika dadaku digayuti kepedihan yang maha. Ada buliran kristal jatuh menganak sungai. Bersamaan duka lara yang membuncah terurai dari lubuk hatiku terdalam.
            “Sayang… percayalah sama Mama. Lama kelamaan kamu pasti bisa mencintainya.”
            “Tidak bisakah pertunangan ini dibatalkan?” Harapku. Tapi Mama cuma menggeleng.
            Terasa bumi bergetar begitu cepat, gelap dan terang bergantian memenuhi ruang mataku. Ada yang mengiris tajam di kalbuku. Sendu, menyayat kalbu. Hanya di sini, hanya dalam dada ini. Perasaan sakit yang amat sangat mulai muncul menjadi dominan. Tertatih-tatih aku menahan rasa sakit itu, dengan tangis yang menyekat mencoba membunuh semua keterkejutan yang menyakitkan.
            Aku nggak tau kenapa Fachry memilihku sebagai pendampingnya. Padahal masih banyak gadis lain yang lebih segalanya dari aku.

            “Kenapa Echa, Ma?” tanya Kak Altaf saat melihatku menangis terus.
            “Dia nggak menyetujui pertunangan ini, Al. Coba bujuk adikmu. Soalnya nggak mungkin Mama membatalkannya.”
             “Iya, Ma. Akan Altaf coba.”

            Kak Altaf duduk di sampingku sambil mengelus rambutku.
            “Echa… Sudahlah. Terima saja. Mungkin ini yang terbaik untukmu.”
            “Itu menurut Mama bukan menurut Echa. Kakak nggak ngerti perasaan Echa.”
            “Karena itulah sekarang kamu katakan sama Kakak,” kata Kak Altaf sambil memupus air mata yang terus membernas dari sudut-sudut mataku.
            Mengatakannya sama kakak? Itu sama saja dengan membongkar rahasia hatiku. Aku kembali menangis di pelukan Kak Altaf tanpa menjawab pintanya.
            “Ya sudah…Kalau gak mau ngomong. Percaya sama Kakak, kamu pasti bisa menerimanya, walaupun bukan saat ini.”

--(^_^)—
            Sejak kejadian itu, tidak tahu kenapa kak Altaf selalu saja menghindar dariku. Aku jadi serba salah. Apakah karena aku sudah menjadi milik orang lain? Tapi aku adalah adiknya, walaupun sebenarnya aku ingin lebih dari itu.
            Aku hanya bisa berharap semoga seiring dengan bergulirnya sang waktu aku bisa melupakannya dan aku bisa mencintai Fachry sepenuhnya. Memang sepertinya tak mudah. Hidup memang selalu mengukir kenangan, namun seharusnya hidup juga punya berjuta harapan. Semoga!

Biarkan aku menjelma haurimu
Walau angin harus melesapkan embun
Sebab setiap deru suaramu
Berlesir di jelaga jiwaku
Juga kelebat bayang lakumu
Berjalin rapat-rapat di akal sadarku
Sungguh betapa tiada penyisip
Namun aku…
Haruslah puas dengan desau embun dingin
Yang terhela ranting landai
Karena rasa ini… terantuk takdir
Lalu… siapa salah???
--(^_^)—

            “Echa…, panggil Kakakmu untuk sarapan!”
            “Ya, Ma,” kataku sambil beranjak pergi. ‘Inilah kesempatanku untuk mendekatinya,’ pikirku dalam hati.
            Setelah kucari ternyata Kak Altaf nggak ada di kamarnya. Aku hampir putus asa. Apakah dia pergi dari rumah ini?
            Saat aku akan keluar, mataku tertuju pada meja tulisnya. Ada kertas di sana. Kuraih, ternyata itu surat untukku.

            Echa… seandainya aku bisa untuk tidak mencintaimu. Setidaknya melupakanmu. Pasti akan kulakukan dengan cara apapun. Tapi ternyata, aku tidak bisa melupakanmu. Saat kau dipersunting orangpun, aku tetap mencintaimu.
            Aku memang pernah berfikir untuk menjadi sebagian dari hidupmu. Tapi bagiku kini itu hanyalah sebuah impian. Kau kini milik orang lain dan aku harus bisa melupakanmu.
Karena itu aku memutuskan untuk menjauhimu. Aku akan pergi, Cha. Pergi jauh. Dan kamu nggak akan pernah lagi bertemu denganku. 
            Aku cuma bisa berharap semoga engkau bahagia….


            Aku nggak bisa lagi untuk menahan air mataku yang telah menelaga. ‘Ya Tuhan, kenapa Kau berikan cobaan yang seberat ini padaku?” rintihku dalam hati.
            Yang paling mengagetkanku adalah saat aku temukan fhotoku di bawah bantalnya dan di baliknya tertulis: Maafkan aku karena telah lancang mencintaimu.
            Pedih menjalari seluruh ruang jiwaku. Sakit yang lara mengalir hingga ke sumsum tulangku. Air mataku terus menetes perlahan membaur bersama perih yang makin menoreh di dadaku. Dengan mengerjap, aku berharap titik-titik air itu membias ke seluruh bulu mata hingga kian hilang tersapu angin.
            Tanpa pernah kusadari…. Seseorang memandangiku lekat-lekat. Dia hanya tersenyum lalu pergi meninggalkanku. Kak Altaf………
--(^_^)—
            Dua hari kemudian…
            Ada tiga orang petugas dari kepolisian mengabarkan Kak Altaf kecelakaan saat mengendarai sepeda motor dan sebelum sempat dibawa ke rumah sakit nyawanya sudah tidak bisa ditolong lagi.
            Bagai disambar petir di siang hari, tubuhku lemas, tulang persendianku terasa seakan-akan lepas.
            Di langit, awan menggulung matahari. Pekatnya menebal tapi pasti. Petir menggelegar lalu guntur meraung perkasa di antara mega-mega. Tak kupedulikan hujan yang deras bagai tumpah dari langit. Dalam kuyup kuberlari dan terus saja berlari. Perih untuk aku terima kenyataan ini. Kuyakin Kak Altaf meninggal karena aku. Karena dia pergi pasti dengan membawa kalut jiwanya. INI SEMUA GARA-GARA AKU!!!!
            “YA TUHAN… KENAPA INI TERJADI PADANYA? KENAPA TIDAK AKU SAJA YANG MENGALAMI KECELAKAAN ITU?” jeritku mencoba mengimbangi derap suara hujan.
            Kini yang ada hanyalah penyesalan. Penyesalan rasanya tak akan menemukan ujungnya. Harga yang harus aku bayar untuk semua penyesalan ini tak akan mungkin aku lunasi.
--(^_^)—
            Tiga bulan sudah Kak Altaf pergi dan satu bulan lagi aku akan melangsungkan pernikahanku dengan Fachry.
            “Doakan aku, Kak. Walaupun aku sudah menjadi milik orang lain tapi percayalah, di sudut hatiku yang paling dalam masih tersisa cinta yang suci untukmu.”
            Siapapun boleh datang dan pergi. Tapi Kak Altaf tak akan pernah pergi karena ia selalu ada di hati.
Rasa tak bernama itu masih bersemayam dalam lubuk hatiku yang kututupi rapi.


Biarlah kusimpan
Sampai nanti aku kan ada di sana
Tenanglah dirimu dalam kedamaian
Ingatlah cintaku…
Kau tak terlihat lagi namun cintamu
Abadi….
                     (Mengenangmu, KerisPatih)


 

Ganjaran, 26 April 2006/01:56 PM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Buku Tamu
Link To Me
Nasihat / Comment
Jejak Komentar
EDIT TAB 5
   Koridor Silaturahim Kaukaba Zone