Oleh : Thiya_RenjanaSinopsis;
Muhammad Agil Yusqie Hibatullah. Nama yang indah. Seindah sosoknya juga impiannya. Tapi rupanya kenyataan masih belum berkenan tuk berpihak pada citanya. Maka Agil harus kembali memilih dalam dilema yang sama. Lagi dan lagi. Hingga ia belajar, untuk memahami bahwa apa yang indah tak selamanya pasti terjadi.
Relung Terserpih,
bukan hanya menawarkan satu lagi kisah cinta.
Tapi mengantarkan kita tuk jalin interaksi yang lebih bijak menurut Sang Pencipta.
“Alhamdulillah….. Allahu Akbar,”
Agil tersungkur. Spontan bersujud syukur sepersekian detik setelah namanya disebut. Ia berhasil menyabet gelar juara ke-II menyisihkan 780 siswa di MA Diniyah Ulul Albab Situbondo. Air matanya menetes tanpa disadari dan kawan-kawannya berebutan memeluknya. Tak sia-sia perjuangannya mengurangi jatah waktu main dan istirahatnya.
Agil melangkah mantap menuju panggung dengan diiringi tatapan haru KH. Hamid, abahnya. Agil menoleh sekilas ke arah deretan kursi-kursi wali santri. Ada Abahnya di sana dengan mengenakan jubah dan surban putih bersih seperti biasanya, duduk di salah satu kursi deretan ketiga dari depan. Abahnya mengangguk pada Agil saat ia memandangnya. Agil tersenyum. Langkahnya terasa ringan.
Saat berdiri di atas panggung bersama enam kawannya, ia dapat melihat jelas semua hadirin sedang mengarah ke panggung. Jumlah santri, guru, dan tamu yang hadir di lapangan PPs Ulul Albab tidak kurang dari 7000 orang. Dari atas panggung, semuanya terlihat seperti semut di matanya.
Penuh.
Prosesi wisuda alumnus Ulul Albab tahun akademik 2004-2005 berakhir, dan penyerahan piagam serta piala untuk para juara kelaspun telah usai. Agil memandangi piagam, kalung lencana, dan piala berwarna emas di tangannya. Bersama abahnya, ia meninggalkan aula Ulul Albab yang masih gaduh oleh hiruk pikuk para tamu dan santri.
Agil tak henti-henti melafadkan syukur di hatinya. Jerih payahnya memaksakan kekejaman pada diri untuk mati-matian belajar terbayarkan kini. Bahagia ia dapat melihat tatapan bangga dari Abahnya.
“Agil…”
“Ya, Abah? Ada apa?”
“Tadi saat kamu sedang sibuk foto bersama dan foto-foto bareng kawan-kawanmu, Abah dipanggil Ustadz Hasan. Katanya dia TU administrasi Ulul Albab?”
“Betul, Bah. Ustadz Hasan memang TU Ulul Albab. Ada apa, Bah? Rasanya Agil udah melunasi semua pembayaran sekolah Agil,” Agil mengernyitkan kening.
“Bukan masalah keuangan, Gil.”
“Lantas apa, Bah?”
“Kata Ustadz Hasan tadi, kamu disuruh ke kantor TU besok. Ada pemberitahuan untukmu, katanya.”
Langkah Agil terhenti. Rasa penasaran memenuhi pikirannya.
“Ada apa ya, Bah? Agil penasaran.”
“Ya nggak taulah, Gil. Kamu datang saja besok. Katanya jam dua siang gitu.”
Sesampainya di pintu gerbang Ulul Albab, mereka disambut oleh Pak Kholis, supir kepercayaan keluarga KH. Hamid.
“Bagaimana wisudanya, Yai?” Pak Kholis membungkuk seraya mencium tangan KH. Ahmad.
“Alhamdulillah, Pak. Liat aja tuh Agil bawa apa,” jawabnya sambil menoleh ke arah Agil.
Melihat Agil menenteng piala, piagam, dan kalung lencananya, Pak Kholis membelalak kagum. “Oalah Guuuss… Gus Agil hebat banget toh. Ckckckck...”
“Ah, Pak Kholis gak usah begitu. Saya cuma juara dua kok. Masih ada yang di atas saya.”
“Tapi tetap saja hebat, Gus. Untuk menyisihkan siswa-siswa sebanyak itu kan gak gampang, Gus. Tetap aja ini bukti kalau Agus ini emang pinter seperti Abahnya.”
Kiai Hamid dan Agil tersenyum bersamaan mendengar ucapan Pak Kholis. Pak Kholis semakin melebarkan senyumnya. Ia membukakan pintu mobil untuk Kiai Hamid.
Agil menghampiri Pak Kholis yang akan masuk ke dalam mobil.
“Pak Kholis.. saya titip ini,” Agil menyerahkan piagam, kalung lencana, dan piala di tangannya. “ Bah, salam bakti Agil buat Nyik ya.” Ujarnya lagi lalu meraih tangan Abahnya dan menciumnya.
Pak Kholis terkejut, “loh? Agus ni ndak ikut pulang toh?”
“Ya nggaklah, Pak. Saya masih banyak urusan di sini.”
“Lah urusan apa lagi, Gus? Bukannya sekarang itu Agus sudah libur?”
“Banyaklah, Pak”
“Yo wis… Kami pulang, Gus.”
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumussalam warrahmatullahi wabarakatuh,” serempak mereka berdua menjawab salam.
---@@@----
“Assalamu ‘alaikum...” seru Agil di depan pintu ruang TU Ulul Albab.
“Wa’alaikumsalam warahmah…” Ustadz Hasan membalikkan badan. “Oh, Agil. Masuk, Gil!” Ustadz Hasan menutup buku yang dipegangnya lalu menaruhnya kembali ke jajaran buku pada rak di depannya.
Agil masuk kemudian duduk perlahan pada kursi di depan meja Ustadz Hasan. Matanya tak henti mengikuti setiap gerakan Ustadz Hasan.
Ustadz Hasan menggeser kursinya keluar sedikit dari mejanya lalu duduk. Ia menatap Agil.
“Ada apa,Ustadz? Kemarin oleh Abah saya, saya diberitahu untuk datang ke sini.”
“Ya..ya.. Hmmm.. Langsung saja ya, Agil. Begini, dari keputusan rapat dewan guru pada malam Senin minggu lalu. Dengan berbagai pertimbangan kami telah memutuskan untuk mengirim para juara umum Madrasah Aliyah Diniyah Ulul Albab sebagai guru tugas untuk pesantren-pesantren yang mengajukan permohonan guru tugas ke Yayasan Ulul Albab ini.”
Agil terkejut.
“Apa saya layak, Ustadz? Saya kan tidak tau apa-apa...” Agil masih meminta pertimbangan.
“Maaf sekali, Agil. Menurut keputusan hasil rapat itu, yang akan dikirim sebagai guru tugas adalah para juara umum tahun ini.” Ustadz Hasan mengeluarkan sebuah amplop besar dari mapnya. “Dan berikan surat pemberitahuan ini kepada orang tua atau walimu, ya!”
“Tapi, Ustadz… Apa saya memang sudah dinilai mampu untuk terjun ke masyarakat seperti ini?”
“Insya Allah… Kamu persiapkan saja dirimu ya. Tanggal berangkat dan lokasi pesantren tujuannya ada di dalam amplop itu.” Kata Ustadz Hasan sambil menunjuk ke amplop yang kini telah berpindah ke tangan Agil .
“Baiklah, Ustadz. Saya akan mencobanya. Ini amanah untuk saya. Kalau begitu saya permisi, Ustadz. Assalamu ‘alaikum.”
“Wa’alaikum salam warahmatullahiwabarakah.”
Agil keluar dari ruangan TU. Tangannya menimang-nimang amplop di tangannya. Ia berpikir.
“Kenapa Ustadz Hasan nggak kasih langsung aja surat ini ke Abah kemarin. Kalau gini kan aku mesti pulang buat ngasihin surat ini ke Abah. Tapi, baiklah. Besok aku pulang saja. Aku juga harus meminta nasihat dan restu dari Abah dan Nyik.”
---@@@---
Agil berdiri tegak seraya menghirup udara sekitar sedalam-dalamnya. Rombongan mereka tiba di kota Sampang Madura. Ia memandang gapura pintu gerbang di depannya lekat-lekat. Terpampang jelas di bagian atas gapura sederet tulisan berwarna keemasan.
PPs. Hidayatul Muqorrobiin Putra.
Ya, di sinilah pemuda kelahiran 18 Maret 1985 ini akan memulai perjalanannya berdakwah. Di usianya yang belia, ia sudah harus belajar menjadi pendidik serta menyeru orang lain kepada yang lebih baik.
Agil berjalan mengekor di belakang Ustadz Hasan dan Ustadz Malik. Bertiga mereka memasuki pelataran pesantren yang asing sekali bagi Agil. Tidak terlalu luas seperti pesantrennya dulu memang, tapi teduh dan bersih. Di depan kantor administrasi PP. Hidayatul Muqorrobiin, mereka disambut oleh seorang lelaki paruh baya berpeci putih.
“Assalaamu ‘alaikum!” seru Ustadz Hasan dan Ustadz Malik bersamaan.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Selamat datang, Ustadz…” jawab lelaki tersebut sambil menjabat tangan Ustadz Hasan, Malik, dan Agil bergantian. “Masuk.. masuk!!”
“Terima kasih.” Timpal Ustadz Malik.
Suhu dingin langsung menyapa ketika mereka baru membuka pintu kantor. Alunan shalawat dari Da’i terkenal Ibu Kota terdengar pas di telinga dari speaker komputer. Tidak nyaring juga tidak terlampau pelan.
Di ruangan seluas enam kali lima meter tersebut mereka langsung duduk di sofa abu-abu di sudut ruangan. Agil melihat foto besar di dinding. Seorang laki-laki berusia sekitar enam puluh tahunan mengenakan surban putih tampak kharismatik dan berwibawa. Di sebelah kanannya seorang pria yang lebih muda mengenakan jas hitam dan berkopyah hitam.
“Itu foto KH. Mahmud Zarkawi pengasuh utama pesantren ini dan sebelah kanannya itu adalah KH. Muhammad Syaifullah, menantunya selaku wakil pengasuh,” bisik Ustadz Hasan kepada Agil.
“Ini adalah Ustadz muda yang diutus pesantren kami ke sini, Ustadz Jamal. Namanya Muhammad Agil Yusqie Hibatullah,” kata Ustadz Malik sambil menunjuk ke arah Agil. Agil mengangguk takdzim. Dilihatnya laki-laki yang dipanggil Ustadz Jamal tadi tersenyum sumringah. Mungkin karena permohonan guru tugasnya dikabulkan dan terealisasi sekarang.
“Oh iya.. iya… Panjang sekali namanya. Tapi bagus. Kalau boleh tau, dari mana asal Ustadz Muhammad Agil ini?” Ustadz Jamal bertanya.
“Saya dari Lumajang. Cukup panggil saya Agil saja.” Agil menjawab sopan.
“Owh.. Lumajang rupanya! Bisa bahasa Madura, kan?”
“Engghi… Oning nik-sekonik . Kebetulan di Lumajang masyarakatnya menggunakan dua bahasa daerah, bahasa Jawa dan Madura.” Jawab Agil lugas.
“Saya permisi keluar dulu, saya mau panggil Ustadz Romli. Beliau ketua pondok di sini.” Kata Ustadz Jamal.
Tidak berapa lama, Ustadz Jamal kembali beserta seorang laki-laki. Ustadz Romli, ketua dewan pengurus PP. Hidayatul Muqorrobiin. Ustadz Romli tampak lebih dewasa dari Ustadz Jamal tapi perawakannya lebih kurus dan agak lebih tinggi. Ustadz Romli menyalami mereka satu-persatu.
Setelah lama berbincang-bincang, kemudian Ustadz Romli meminta seorang rekannya yang lain untuk mempersilahkan Agil istirahat serta mengantarkannya ke kamar yang sudah dipersiapkan. Agil perlu istirahat sebelum nanti ia akan diberi penjelasan tentang kegiatan, jadwal, peraturan-peraturan pesantren, dan tugas-tugasnya.
---@@@---
Setengah tahun pertama perjalanan hidup Agil di Hidayatul Muqorrobiin tidak ada rintangan. Ia dapat melewatinya dengan lancar dan baik-baik saja. Hingga setelah liburan pertamanya, ia masih bersemangat untuk kembali lagi ke tempat tugasnya itu.
Tapi kemudian, pada paruh tahun yang kedua, semuanya berubah setelah di pesantren itu ada santri baru yang menarik perhatian Agil. Syahrul Karim namanya. Oleh kawan-kawannya, Syahrul lebih sering dipanggil Arul. Ia baru masuk pesantren sejak kurang lebih dua bulan lalu. Agil melihat Arul sebagai cerminan sosoknya dulu di Ulul Albab. Apalagi ia bisa leluasa memperhatikannya karena kelas Arul di kelas VII A Madrasah Tsanawiyah, adalah Agil sebagai wali kelasnya.
“Syahrul Karim… Kamu maju ke depan! Pimpin diskusi kita hari ini pada bab Qadla’ dan Qadar!”
Arul maju ke depan kelas. Ia mengambil kapur tulis di kotak kayu di samping papan tulis. Tangan kirinya menggenggam buku pelajaran Aqidah Akhlak. Sambil duduk di meja guru di sudut ruangan, Agil memperhatikannya.
Arul berdiri dengan mantap di depan kelas. Pertama-tama dia membaca sebagian isi dari bab tersebut lalu mulai menjelaskan pengertiannya. Sesekali Arul memberi contoh-contoh kecil dengan menuliskannya di papan tulis hitam di belakangnya. Arul juga membuka forum diskusi. Ia mempersilahkan teman-temannya bertanya dan mempersilahkan temannya yang lain memberikan pendapat.
Agil semakin bangga padanya. Seringkali muridnya yang lain kurang ekspresif bila diminta maju ke depan kelas. Tapi Syahrul tidak.
---@@@---
“Ustadz Jamal, saya merasa aneh dengan perasaan saya sendiri,” Agil memulai pembicaraan saat mereka berdua sedang istirahat sambil menyantap gorengan di ruang kantor Ustadz Jamal.
Ustadz Jamal semakin mendekatkan wajahnya ke arah Agil, “Aneh bagaimana, Ustadz?”
“Sebagai Kepala Madrasah Tsanawiyah di sini, Ustadz pasti mengenal siswa yang bernama Arul, bukan?”
“Arul? Anak mana itu? Kelas berapa?”
“Nama lengkapnya Syahrul Karim. Dia berasal dari desa Konang Utara.”
“Ooohh, Syahrul yang masih kelas satu Tsanawiyah itu ya? Ya.. ya.. Saya tahu. Tentu saja saya tau karena di sini kan cuma pesantren kecil jadi santri di sini kan tidak terlalu banyak. Memangnya ada apa dengan anak itu? Dia tidak sedang membuat masalah di sini, kan?”
“Oh, tidak, Ustadz! Dia malah termasuk murid saya yang baik. Dia juga termasuk santri yang menonjol di Hidayah ini. Hanya saja, saya merasa dia berbeda dengan anak-anak yang lainnya.”
“Berbeda bagaimana, Ustadz Agil? Ya..ya… jelas ia berbeda! Bukankah dia memang santri yang menonjol karena prestasinya di sini. Jadi wajar kan kalau dia agak sedikit populer di kalangan guru-guru.”
“Bukan begitu, Ustadz…” Agil cepat-cepat meralat ucapan Ustadz Jamal.
“Yah, lantas berbeda gimana? Sampiyan bicara yang jelas dong!”
“Saya seperti melihat figur saya pada diri Arul, Ustadz. Dia benar-benar seperti sosok saya saat masih mondok dulu di Situbondo. Bahkan secara tidak sadar saya sudah memperlakukan dia berbeda dengan murid-murid saya yang lain. Saya tau itu memang tidak boleh. Malah semakin lama saya mengenalnya, saya menganggap dia adalah adik kandung saya sendiri. Saya ingin selalu menjaganya sebagai kakak, Ustadz. Sekarang, menurut Ustadz, ada apa dengan saya dan apakah sikap saya terhadap dia ini salah?”
Ustadz Jamal mengangguk-angguk.
“Menurut saya pribadi tidaklah, Ustadz. Itu adalah hal yang lumrah. Manusiawi! Rasa simpati bisa terjadi pada siapa saja dengan alasan apa saja. Tapi jangan sampai Ustadz terlalu membedakannya dengan yang lain karena khawatir akan terjadi kecemburuan sosial di antara anak-anak yang lain.”
Agil mengangguk. Hatinya membenarkan semua ucapan Ustadz Jamal.
“Ya udah, daripada bingung. Ustadz jadi kakaknya beneran aja sekalian…” Ustadz Jamal mengerling pada Agil.
“Maksudnya?” Agil tak mengerti.
“Si Syahrul itu punya kakak di Pondok Putri. Cantik, pintar. Cocoklah buat Ustadz Agil nih. Kalau Ustadz Agil dengan mbaknya si Syahrul itu, kan Ustadz bisa jadi kakaknya sungguhan. Bisa terus menjaganya. Bukan hanya di pesantren ini saja, tapi juga kelak di rumah.”
“Ah, Ustadz ini ada-ada saja. Saya di sini untuk mengabdi, bukan untuk cari istri.” Agil beringsut. Ustadz Jamal terkekeh.
“Tapi kalau sekali dayung dua pulau terlampaui kan nggak apa-apa, Ustadz. Udah gak usah khawatir soal prosesnya. Saya bisa bantu. Apalagi saya juga punya adik di pondok putri. Kita bisa minta tolong dia.”
“Sudahlah Ustadz. Saya masih belum mau memikirkan perempuan.”
“Belum mau bukan berarti tidak mau, kan? Pasti akan ada saatnya…” Ustadz Jamal makin terkekeh. Agil diam saja, dia tidak menghiraukan Ustadz Jamal. Baginya, itu hanyalah gurauan Ustadz Jamal yang tidak perlu ia sikapi. Ia tidak punya perasaan apa-apa karena memang tidak punya niat apa-apa.
---@@@---
Di kantor pemanggilan Ustadz Jamal menemui Mufidah, adik kandungnya. Ruangan seluas tiga kali delapan meter itu memang khusus diperuntukkan bagi santri-santri putra yang hendak bertemu dengan muhrimnya di pondok putri, begitupun sebaliknya. Ada undang-undang dan jadwal tersendiri untuk mengatur kelancaran dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Ustadz Jamal memanggil Mufidah untuk keperluan memberikan uang kiriman dari orang tua mereka. Uang sudah diberikan, tapi mereka berdua masih bercerita dan bersenda dulu sambil sesekali Ustadz Jamal memberi nasihat-nasihat seorang kakak kepada Mufidah.
“Denger ya, Da… Kamu jangan cuma mementingkan diri sendiri. Kamu baru saja dapat kiriman uang dari orang tua kita. Ajak temenmu yang lagi kesusahan karena kirimannya telat untuk makan bersama denganmu. Biar merasakan rizki kita juga.”
“Iya, Kak. Aku di putri jadi anak baik, kok. Nggak pelit, suka membantu penolong, santun, dermawan, cantik, cerdas, salehah dan sebagainya.”
“Dan sebagainya dan sebagainya apaan?? Kebanyakan gaya, kamu itu.” Ustadz Jamal mencibir. Mufidah nyengir.
“Oya, Ida… Kamu kenal si Fara? Yang dari Konang Utara itu?” Tanya Ustadz Jamal sambil berbisik-bisik.
“Kenapa gitu, Kak? Kakak naksir yaaaa???” Mufidah mengerling nakal. Ia mencoba menggoda kakak nomor duanya itu.
“Bilang dulu, kamu kenal apa nggak?”
“Yeeehh, kok maksa amat sih? Beneran naksir ya?”
“Eh, ni anak makin bandel! Kakak tanya kamu kenal apa nggak ama si Fara itu kok malah ngelantur kemana-mana omongannya. Huh!!”
“Yaiyalah aku kenal sama Mbak Fara. Secara dia itu kan sekelas dengan aku di Madrasah Diniyah.” Kata Mufidah setengah berteriak. Ia semakin bersemangat. Ia pikir, Kak Jamalnya itu naksir Fara dan sedang mengincarnya.
Ustadz Jamal panik, ia langsung membekap mulut adiknya keras-keras.
“Eh..eh… Ni anak bandel banget!! Jangan kenceng-kenceng dong kalo ngomong itu, Da!!! Mana kamu nyebutin namanya nyaring betul. Kedengeran pengurus di kantor ini bisa berabe. Bisa-bisa mereka berpikiran macam-macam tentang ini.”
Mufidah berontak. Ustadz Jamal melepaskannya sambil melotot ke arah Mufidah.
“Ya makanya ada apa pake tanya-tanya Mbak Fara segala? Dia temen Ida. Sekarang Kakak mau apa sama dia?” Mufidah manyun.
“Da, kamu bisa mintakan fotonya dia?” pinta Ustadz Jamal. Ia mengecilkan suaranya.
Mufidah terbelalak. ‘Bener-bener suka Mbak Fara ni Kakak,’ pikirnya.
“Buat apa sih, Kak? Buat didukunin?” iseng Mufidah lagi.
“Husss… Naudzubillah. Jangan su’udzon gitu. Ada temen kakak di putra masih jomblo. Mau kakak comblangin ma si Fara. Kayaknya cocok tuh, soalnya dia pinter. Guru tugasan yang baru. Manis pula tampangnya. Pokoknya sipp.”
“Kok nggak dicomblangin ma Ida aja Kak kalo cakep??” Mufidah masih usil.
“Kamu sih belum waktunya! Dasar!”
“Loh? Kalo Mbak Fara udah waktunya? Kan kami sekelas di Diniyah. Jadi boleh, dong…”
“ Jelas beda! Kalian sekelas cuma di Madrasah Diniyahnya aja, tapi kan sekolah formalnya tetap lebih senior Fara. Kamu masih kelas tiga, kalau Fara kan udah lulus, emang udah waktunya. Pokoknya nggak boleh! Kamu itu masih harus sekolah, kuliah, ngabdi. Pokoknya jangan buat kamu. Nanti kalau kamu sudah lebih dewasa, Kak Jamal cariin juga.”
“Hmmm.. hmmm”
“Udah jangan kebanyakan interview, kamu usahain aja fotonya, ya. Kakak tunggu.”
“Rebes, bosss!!!”
---@@@---
Fara sedang di dapur Nyai Humairoh, istri Kyai Mahmud, saat Mufidah tergopoh-gopoh menghampirinya.
“Mbak Fara lagi ngapain?” Mufidah mencolek pinggang Fara.
Fara menggeliat geli. “Diem, Da.. Aku lagi sibuk nih… Bukannya ngebantuin malah ngerecokin.” Gadis sederhana itu melanjutkan pekerjaannya menggoreng ikan gurami untuk keluarga ndalem. Sudah dua tahun belakangan ini Fara menjadi khodimah keluarga Nyai Humairoh.
“Mbakku yang cantik, aku boleh minta fotonya, nggak?”
“Buat apa?” Fara berbalik menghadap Mufidah. Rasa terkejut mewarnai wajahnya.
“Ya bukan buat apa-apa sih… cuma buat koleksi doang kok. Boleh yaaaa…” Mufidah merengek.
“Buat apa, Ida? Fotonya orang jelek kok dikoleksi? Kalau mau ngoleksi foto itu ya foto-fotonya orang-orang cantik dan cakep. Artis-artis contohnya.” Fara ngeloyor ke pancuran di samping dapur sambil membawa bakul berisi beras untuk dicuci. Mufidah mengikutinya.
“Aduuh, mbak… Boleh yaaa… Buat kenang-kenangan aja kok. Nggak akan diapa-apain ini. Aku juga udah berhasil ngumpulin foto-foto sebagian temen-temen yang lain.”
“Malu, Ida!! Fotoku kan kayak gitu,” jawab Fara sambil tangannya sibuk mencuci beras.
“Mbak, tuh ikannya kayaknya gosong.”
Fara terperanjat. Spontan ia langsung melompat masuk kembali ke dapur. Dilihatnya ikan gurami yang tadi ia goreng sudah berubah kehitaman. Mufidah masih berteriak-teriak memaksa minta foto Fara. “Mbaaakk, fotonya?”
‘Aduh, gimana ini?’ Fara bersungut-sungut dalam hati.
Mufidah muncul kembali di depan Fara, “fotonya, Mbak?”
“Ah, tauk ah… Pusing! Ini gara-gara kamu, ikan aku sampe gosong kayak gini.”
“Tapi, Mbak. Fotonya boleh ya!” Mufidah masih membandel.
“Haduh, terserah kamulah! Aku sibuk kayak gini masih diganggu juga. Tuh ambil sendiri di kamar. Di daun pintu lemari ada tiga fotoku yang ditempel di sana. Kamu ambil aja satu di situ. Udah sana pergi, ah!”
“Asyiiiiiiiiiiiiiiiiiiikkkk… Makasih ya, Mbak. Mbak cantik deh. Tapi kadang-kadang… Hehehe.” Mufidah buru-buru kabur dari dapur. Ia langsung melesat menuju ke kamar Fara.
---@@@---
Kajian kitab kuning yang dipimpin oleh KH. Syaifullah, menantu KH. Mahmud Zarkawi pada subuh itu berlangsung tertib seperti biasanya. Di depan, Kyai Syaiful sedang memberi sedikit keterangan dari kajiannya barusan.
Ustadz Jamal beringsut menghampiri Agil.
“Ustadz Agil… Liat nih saya membawa apa?” Ustadz Jamal mengeluarkan sesuatu dari kitabnya. Sebuah foto. Ia berikan benda itu begitu saja pada Agil.
“Apa ini, Ustadz? Siapa perempuan ini?” Agil langsung memberikan foto itu pada Ustadz Jamal kembali.
“Ini yang namanya Fara, Ustadz.” Bisik Ustadz Jamal memberi tahu Agil.
“Aduh, Ustadz ini ada-ada aja. Saya kan nggak minta. Saya kira apa.”
“Ambil saja, Ustadz Agil. Nggak apa-apa. Cuma saya yang tau. Saya juga tau kalau Ustadz cocok sekali dengan si Fara.”
“Nggak, Ustadz. Mohon maaf. Lagian saya kan nggak minta. Nggak, ah. Saya nggak mau. Ustadz kembalikan saja foto itu kepada orangnya. Saya nggak mau.”
Setelah terjadi rebut-rebutan untuk memberikan foto, akhirnya Agil berhasil memberikan kembali foto itu pada Ustadz Jamal. Ia tidak mau hatinya terkotori dan konsentrasinya di Hidayatul Muqorrobiin ini buyar karena memikirkan hal lain.
Beruntung bagi Agil dan Ustadz Jamal. Kejadian itu tidak terlihat oleh Kyai Syaiful. Posisi mereka berdua terhalang pilar besar Musholla. Karena kalau tidak, beliau pasti marah ada santrinya yang tidak memperhatikannya saat kajian kitab berlangsung.
Kepada gadis dengan dunia dalam inderanya.
Dalam kelamnya malam selain kebekuan adalah ketakutan
Langit kian benderang
Meninggalkan kelam di penghujung malam
Embun-embun membelai riang
Burung-burung terbang berkicauan
Kala mata mulai terbuka
Dalam kaca kulihat dirimu bertahta
Menyambut fajar dengan biasan cinta
Andai ku bisa berkata,
Tak pernah kulupa satu bahasa, yang selalu bersembunyi di balik jiwa
Karena dalam kelamnya malam
Selain kebekuan adalah ketakutan
Diriku beku diriku takut oleh cinta
---@@@----
Hari-hari Agil di Hidayatul Muqorrobiin terus berlalu. Rasa senang Agil pada Arul semakin besar. Agil sangat kasihan, simpati, juga sayang. Semua perasaan itu tumbuh begitu saja. Agil melihat figurnya. Seakan Arul adalah dirinya sewaktu nyantri dulu. Bahkan Agil mulai merasa bahwa Arul adalah adiknya sendiri.
Saat keluar dari kamar, Agil melihat Arul sedang duduk di beranda musholla. Tangannya terlihat memegang sebuah kitab kecil. Agil menghampirinya.
“Assalamu’alaikum, Rul”
“Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Eh, Ustadz Agil. Dari mana mau ke mana Ustadz?” Arul membenahi cara duduknya, Agil justru duduk di sampingnya. Tangannya menyentuh sampul kitab yang sejak tadi dipegang Arul.
“Nadzam Alfiyah ibn Malik. Hmmm… Kenapa kamu menghafalkan ini? Bukankah untuk kelas kamu hanya diwajibkan untuk menghafal nadzam Imrithi saja?” Agil membaca tulisan di sampul kitab Nadham yang dipegang Arul.
Arul langsung menutup kitabnya. Ia tersipu.
“Imrithi saya sudah khatam sejak sebulan lalu, Ustadz. Tinggal setoran hafalan ke Ustadz Jamal. Tapi Ustadz Jamalnya masih belum rawuh-rawuh.”
Agil maklum. Ia tahu sudah tiga minggu Ustadz Jamal pulang ke rumahnya di daerah Sumenep dan sampai sekarang, masih belum kembali ke pesantren. Entah karena apa Agil tidak tahu.
“Sudah berapa bab nadzam Alfiyah yang kamu hafal?”
“Masih enam bab, Ustadz.”
“Kamu setor hafalanmu ke saya saja, Rul. Kan sama saja.”
“Baik, Ustadz.”
“Ya… kalau gitu, nanti kalau kamu sedang nggak ada kegiatan atau ada waktu nganggur, silahkan kamu ke kamar saya.”
“Baik, Ustadz,” kata Arul lagi.
Beberapa menit lamanya mereka saling terdiam. Agil belum punya topik untuk dibicarakan. Agil sedikit menyurut mundur. Menyandarkan punggungnya pada pilar kokoh Musholla. Lantai keramiknya menimbulkan sensasi sejuk di tengah ganasnya udara panas tanah Madura. Musim kemarau di Pulau Madura lebih terasa panas dibanding di Pulau Jawa. Panas meranggas. Juga penuh debu.
Kemudian…
“Oh iya, Rul… Kamu sendirian di pesantren ini? Apa nggak ada saudara gitu?” Agil bertanya, ia pura-pura tidak tahu.
“Nggak, Ustadz. Kalau di pondok putra ini saya memang sendirian. Tapi di pondok putri ada Mbak saya. Mbak Faradisa namanya. Dia mondoknya empat tahun lebih dulu dari saya, Ustadz.”
“Ooohh, gitu.” Agil mengangguk-angguk.
“Kenapa gitu, Ustadz?”
“Ya nggak ada apa-apa lah…” jawab Agil sekenanya. Ia tidak mau menanyakan Fara lebih jauh karena ia mendengar kabar bahwa Fara sudah punya tunangan. Tak heran, karena kebiasaan masyarakat desa di Madura acapkali menikahkan anak gadisnya yang sudah mulai beranjak dewasa atau setidaknya menjodohkannya. Budaya nikah dini sangat kental di sini.
‘Aku tidak boleh terus-menerus memikirkannya. Fara milik orang lain,’ gumam Agil dalam hati.
Agil tersenyum pada Arul. Ia masih belum ingin beranjak dari duduknya di samping Arul yang kembali meneruskan hafalannya. Agil tercenung. Melamun. Ia tidak mengerti pada perasaannya sendiri. Ia benar-benar tidak habis pikir kenapa nama Fara selalu berkelebatan dalam pikirannya. Padahal wajah Fara sendiripun ia sudah benar-benar lupa. Agil menghela nafas berat. Ia merasa semakin berdosa punya perasaan itu.
Agil melirik Arul di sampingnya, ia tersenyum. ‘Ya, ini hanyalah cobaan untukku. Tiga bulan lagi masa tugasku di sini usai. Tenang saja, Agil. Semua cobaan ini juga akan berakhir pada masa tugas selesai,’ yakinnya dalam hati.
Ia bersyukur, masa tugasnya di pesantren ini tinggal seminggu lagi. Dan minggu depan ia akan pulang. Namun Agil masih belum bisa pulang untuk berhenti sepenuhnya dari PPs Hidayatul Muqorrobiin. Ia hanya punya waktu seminggu untuk pulang ke Lumajang. Karena setelah itu, ia harus kembali dulu ke pesantren Hidayatul Muqorrobiin untuk menghadiri serta mempersiapkan acara imtihan wisuda siswa-siswi kelas tiga Madrasah Aliyah dan Tsanawiyah.
---@@@----
Senja di ufuk barat mulai menua, warnanya mulai saga. Agil memandangnya sekilas sebelum melangkahkan kaki ke Musholla untuk sholat Maghrib berjama’ah. Rasa penat dan lelah masih menggelayuti raganya. Ia baru tiba tadi sore sekitar pukul empat. Walaupun masa tugasnya di Hidayatul Muqorrobiin ini telah usai, ia harus kembali untuk menghadiri dan membantu-bantu acara imtihan atau prosesi wisuda Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah minggu depan.
Setelah pembacaan wiridl dan doa selesai, Agil mengangkat tangannya sejajar pada dadanya. Butiran kristal bening mengalir dari sudut matanya yang sayu. Melukis genangan sungai di pipinya.
Allahku…
Jika aku jatuh cinta, cintakan aku pada seorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-Mu…
Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta, jagalah cintaku agar tidak melebihi cintaku pada-Mu…
Ya Allah, jika aku jatuh hati, ijinkan aku menyentuh hatinya untuk tertaut pada-Mu agar tidak terjatuh dalam jurang cinta-Mu.
Ya Rabbana.. jika aku jatuh hati, jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling dari hati-Mu.
Ya Rabbul Izzati.. Jika aku rindu, rindukan aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.
Ya Allah, jika aku rindu, jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan surga-Mu.
Ya Allah, jika aku menikmati cinta kasih-Mu, janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhir-Mu.
Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasihMu, jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu.
Ya Allah.. jika kau halalkan aku merindui kekasihMu jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya pada-Mu.
Ya Allah.. Engkau mengetahui bahwa hati ini telah terhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam taat kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah padaMu, dan telah terpadu dalam membela syariatMu. Penuhilah hati ini dengan Nur-Mu yang tiada pernah pudar, lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan.
Amien Ya Rabbal Alamiin..
---@@@----
Arul harus melewati jalan kecil di samping musholla untuk menuju kamar Ustadz Agil. Ia berjalan pelan sambil sedikit menarik kain sarungnya. Jalanan yang agak becek karena diguyur hujan tadi siang menyulitkan langkahnya. Untung cahaya terang dari lampu Musholla sedikit membantu.
Kamar Agil memang berada di blok Firdaus. Di blok itu ada kamar khusus untuk guru tugas, kamar guru pengabdi, ruang informasi, kantor Dep. Keamanan, dan ruangan lainnya. Terpisah dari blok-blok asrama santri Hidayatul Muqorrobiin di sebelah timur.
Arul tiba di depan beranda kamar Ustadz Agil. Tampak di depannya dinding hijau muda lembut kamar khusus guru tugas. Dilihatnya pintu kamar Agil sedikit terbuka. Dari luar Arul dapat dengan leluasa melihat Ustadz Agil sedang sibuk menggunting huruf-huruf dari kertas karton aneka warna. Ia tahu kalau huruf-huruf yang dibuat Ustadz Agil adalah untuk dekorasi background panggung imtihan.
“Assalamu’alaikum….”
Agil menoleh. Seketika tangannya yang sedari tadi sibuk menggunting kertas terhenti. “Waalaikum salam warahmah, masuk, Rul!!!”
Arul masuk. “Maaf saya mengganggu, Ustadz. Saya cuma ingin mengembalikan buku panduan pidato bahasa arab milik Ustadz.”
“Oh iya.. iya… taruh saja di rak kitab saya ya, Rul.” Agil melanjutkan pekerjaannya.
Arul memandangi semua potongan-potongan kertas yang berserakan di kamar Ustadznya itu. “Ada yang bisa saya bantu, nggak, Ustadz?”
“Banyak, Rul. Kamu tenang saja. Hari ini memang kebetulan sedang banyak pekerjaan. Itu… kamu ambil karton yang warna hijau, kamu jiplak huruf G yang ini 3 buah, terus huruf A yang ini kamu jiplak lagi 7 buah pake karton yang warna merah muda ya. Kalau udah selesai, kamu bisa guntingin itu sekalian. Hehehe..” kata Agil sambil menunjuk huruf-huruf kertas berbagai bentuk di sampingnya.
Dengan sigap Arul segera meraih pensil dan huruf A bergaya Algerian. Ia taruh di atas kertas karton merah muda dan meluruskannya dengan tangannya. Jari-jarinya mulai bergerak menggambar garis mengikuti huruf contoh tersebut.
“Rul, temen-temenku di sini ada yang bilang mbakmu itu manis dan pintar. Ternyata dia populer juga di pondok putra ini.”
Arul tidak menjawab.
“Kalau dengan saya cocok gak, ya, Rul? Hehehe. Sayang, kabarnya dia udah tunangan, ya, Rul?”
“Iya, Ustadz.” Jawab Arul tanpa beralih dari pekerjaannya. Jawaban itu terlepas begitu saja tanpa Arul pikir dulu. Ia berbohong. Ia merasa mbaknya tidak pantas bila dengan orang sekaliber Ustadz Agil.
Demi mendengar jawaban yang sama sekali tidak diharapkannya, Agil terdiam. Ia merasa sangat menyesal telah bertanya. Ternyata hatinya masih tidak bisa bersikap netral. Tapi Agil maklum, karena memang seperti itu kabar yang ia terima sebelumnya.
Kertas karton di tangan Agil tergunting tidak pada jalur yang semestinya. Agil spontan beristighfar pelan. Konsentrasinya yang buyar mengakibatkan ia salah menggunting. Satu huruf kertas rusak. Ia harus membuatnya lagi. Arul tidak menyadari perubahan sikap Agil. Ia masih asyik dengan pekerjaannya. Sedangkan Agil justru merasa pekerjaannya malam ini menjadi lebih berat dan membosankan dari biasanya.
---@@@----
Agil terdiam. Ini adalah kali ketiga ia dipanggil untuk menghadap Kyai Mahmud Zarkawi. Pasti hanya membicarakan permohonan perpanjangan masa tugas di Hidayah, pikirnya. Agil menggigit bibir. Bingung. Entah alasan apalagi yang akan ia kemukakan untuk menolak secara halus permintaan itu. Bukan ia tidak berkenan membantu mengajar di sini, tapi di Hidayah ini ada Fara dan Arul yang dirasanya akan terus-menerus mengusik hatinya.
Agil melangkah memasuki halaman ndalem Kyai Mahmud. Semerbak bunga sepatu dan mawar di kanan kiri jalan setapak menggelitik hidungnya. Ragu ia mengayunkan kaki menuju pintu jati rumah itu. Ia mengetuk pintu perlahan dan menguluk salam. Berharap di dalam rumah tidak ada orang yang akan menjawab.
“Wa’alaikum salam warahmatullah. Agil ya?”
“Dhi dhelem , Yai…” sahut Agil.
“Masuk saja, Agil,” jelas itu suara Kyai Mahmud. Rupanya kehadiran Agil sudah ditunggu dari tadi.
Agil duduk di bawah, di karpet merah marun dekat jendela besar ruang tamu itu. Tapi buru-buru Kyai Mahmud memanggilnya, menyuruhnya mendekat dan duduk di sofa hijau tepat di depan ia sendiri duduk.
Agil menurut.
“Jangan duduk di bawah, Agil. Kamu itu tamuku.”
“Enggih , Yai…” Agil menunduk.
“Kamu pasti tau maksudku memanggilmu ke sini, bukan?”
“Tak langkong , Yai. Saya tidak berani menebak.” Agil masih menunduk.
“Hehehe, kamu memang anak baik. Aku bangga padamu. Yah, aku memanggilmu sekarang ini tentu saja untuk menanyakan kesediaanmu mengajar lagi di sini setahun lagi saja. Kami merasa cocok dengan sistem pengajaran kamu di sini. Bagaimana?” Tembak Kyai Mahmud langsung. Tajam ia memandang Agil.
Agil menghela nafas. Bingung. Dia memaksa otaknya untuk berfikir mencari-cari alasan. Ia merasa berat untuk berlama-lama di Hidayah ini.
“Ehem…” Kyai berdehem. Agil tersentak. “Bagaimana Ustadz Agil???” Tanya Kyai lagi. Agil masih terdiam.
“Saya memohon loh, Agil. Saya benar-benar memohon. Bukan sebagai Kyai Haji pengasuh utama Hidayatul Muqorrobiin. Tapi saya memohon sebagai Mahmud Zarkawi. Mahmud memohon sama Ustadz Muhammad Agil Yusqie Hibatullah.”
Agil kembali terhenyak. Tak menyangka Kyai Mahmud sampai memohon-mohon padanya seperti itu.
“Nyu’unah saporah , Yai. Saya tidak bisa menjawabnya karena di rumah saya sendiri ada madrasah yang dikelola Abah saya. Kalau Kyai tetap mengharap tenaga saya di sini, silahkan Kyai tanyakan langsung saja ke Abah saya di Lumajang.”
“Oh, boleh.. boleh.. Kalau begitu, aku akan ke rumah kamu langsung. Aku akan minta kamu langsung ke Abahmu. Hmmm…Manabi Junandalem, kadiponapa? ”
“Ngereng kasokan, Yai… ”
Agil bergeming. Ia pikir Kyai tidak akan sampai ke Abahnya. Paling-paling Kyai hanya ke Ulul Albab untuk memohon perpanjangan masa tugas.
“Maaf, Yai. Saya mohon pamit, setelah ini saya ditunggu teman-teman untuk membantu mempersiapkan segala sesuatu untuk acara imtihan.” Agil pamit lalu menghampiri Kyai Mahmud serta mencium tangannya.
---@@@----
Suasana Hidayatul Muqorrobiin bising sekali malam ini. Hiruk pikuk di mana-mana. Acara Wisuda Siswa-Siswi Madrasah Aliyah dan Tsanawiwah Hidayah dihelat malam ini di lapangan belakang Madrasah. Panggung raksasa yang terang-benderang berdiri dengan megah. Warga sekitar dan wali-wali murid hadir. Seluruh santri tumpah ruah. Di luar pagar terdapat pasar kaget yang membuat suasana semakin ramai di luar maupun di dalam.
Agil duduk di kursi tepat di samping panggung. Ia kebagian tugas sebagai protokol malam ini.
Sambil menyeruput minumannya pelan, Agil mengedarkan pandang. Di depan ruang ganti para wisudawan, Agil melihat Arul. Agil menghampirinya.
“Ngapain kamu sendirian di sini?” Sapa Agil.
“Baru aja dari dalam, Ustadz. Abis menemui Kak Iqbal di dalam.” Arul menunjuk ruang ganti wisudawan di belakangnya.
“Rul, besok setelah dluhur aku pulang ke Lumajang. Dan bisa jadi ini adalah pertemuan terakhirku dengan kamu dan teman-temanmu yang lainnya. Mungkin aku nggak akan kembali lagi ke sini. Masa tugas aku selesai malam ini. Aku minta maaf, Rul. Kalau-kalau aku punya salah yang tidak kusengaja.”
Seperti halnya seluruh penghuni PPs. Hidayah, Arul pun sudah tahu kalau masa tugas Ustadz Agil yang hanya setahun itu sudah selesai. Arul diam. Tidak tahu harus berkata apa lagi. Suaranya tercekat di tenggorokan. Dia sebenarnya berat berpisah dengan Guru yang paling dekat dengannya itu. Masih terlalu singkat kebersamaan mereka di Hidayah ini.
“Salam juga untuk Mbakmu. Salam ukhuwah dan bilangin, aku minta maaf sudah berani suka sama milik orang. Tapi jujur, memang seperti itu perasaanku. Bilangin ya, maaf dan terima kasih atas semuanya.”
Agil menyelipkan sesuatu ke genggaman Arul. Agil mengatakan itu titipan darinya untuk Mbak Fara.
Arul terkejut. Ia sedikit kurang suka.
Belum sempat Agil meneruskan kata-katanya, tiba-tiba Arul sudah berlari dari hadapannya. Agil melihat ia berlari tanpa mengucapkan apa-apa. Tapi tak lama karena ia segera teringat bahwa ia harus sudah kembali ke tempatnya semula.
Di sudut lapangan, Arul meremas surat dari Ustadz Agil. Gamang. Kemudian jari-jarinya yang dingin membuka lipatan surat tersebut.
Sebelum tenggelamnya fajar, dan sebelum semua harapan surut, juga sebelum semua telat, hingga semuanya terkubur dalam puing penyesalan.
Aku… tak lagi tega dengan hati yang selalu menanti usai semua pengkhianatan diri. Sungguh aneh, tak terpahami dan dimengerti. Karena apa yang ada di hati selalu misteri.
Inikah maya… atau nyata?? Saat ada dan tiadanya dirimu membuat perasaan tak tertata. Hingga dengan penuh malu aku berkata, tuk pertama yang selanjutnya mungkin tak pernah dianggap ada.
Hatiku menitipkan bahasa yang telah lama tak teraksa.
“Aku sangat mencintaimu”
Hanya inilah pesannya untukmu, karena ketiadaanmu semakin menyisakan dahaga. Hingga tak bisa lagi kujaga, malu yang selama ini meraja.
Tapi hatiku tak pernah mengharap dirimu mencintanya, ataupun menuntut cinta yang sama atas dirimu.
Hanya saja ada satu harapan kecil. Ijinkan dia “mencintaimu”. Itu saja sudah cukup menghapus segala dahaga atas penantian lamanya. Maaf atas ketidaktahudirianku ini.
Sekarang aku sudah lega, karena akhirnya telah berani menuturkan kebohongan diri. Maafkan aku karena mencintaimu.
Dari jiwa yang sepi akan cinta…….
Agil.
Arul membacanya sekali dengan singkat. Ia lipat lagi surat itu asal dan memasukkannya ke saku kemeja putihnya. Lalu ia berlari menuju kerumunan penonton, membaur bersama teman-temannya.
---@@@----
Agil memandang jama’ah subuh di Musholla Hidayah dengan tatapan yang berbeda. Ia merasa ia tidak akan merasakan suasana seperti ini di sini lagi. Pagi ini ia tetap berada di shaf terdepan seperti biasanya. Hanya saja, kali ini ia merasa lebih beruntung karena bisa mendapat tempat tepat di belakang imam. Kebetulan KH. Mahmud Zarkawi yang memimpin jama’ah subuh hari ini.
Agil tertunduk dalam. Larut dalam dengung dzikir para santri yang memenuhi musholla. Dengungnya berpendar-pendar memenuhi udara. Damai.
Selepas Dluhur…
Agil masuk ke dalam mobilnya. Ia memandang pesantren di mana ia telah banyak belajar tentang kehidupan. Ia teringat Fara dan Arul. Dua orang yang memberi warna di pelangi hidupnya.
Betapa sulit menjadi bagian yang tak terpisahkan
Tiap detik harus selalu menghadirkan bayangnya yang tak tersketsa dengan jelas
Tiap saat harus memikirkannya dengan jiwa yang lelah
Namun tak ingin jauh darinya meski harus bertahan dalam luka
Deru ban mobil Kijang abu-abu yang ditumpangi Agil menggilas debu-debu dan dedaunan kering di sepanjang jalan kota Sampang.
Udara panas menyengat bumi Madura menyebabkan tanah menjadi pecah-pecah. Gersang. Tapi bagaimanapun suasananya, Agil tahu, ia pasti akan merindukan tempat ini lagi.
---@@@----
Di tengah deras hujan
kutoleh ke belakang rinainya
dan kutemukan wajahmu di antara
jarum-jarum air yang semakin menderas.
Kau lambaikan tangan
Dan kubalas…
Indah.
Tiba-tiba kurasakan hujan ini begitu indah.
Agil terbangun. Ia tercenung. Berusaha berpikir apa arti mimpi pendeknya barusan. Ini adalah kedua kalinya Agil bermimpi gadis yang sama. Ia tidak mengenal wajah gadis itu. Wajah gadis itu tampak jelas sekali di mimpinya dan Agil bisa mengingatnya kembali dengan sempurna. Ia tidak yakin ini rekayasa syaithan karena ia tidak pernah lupa untuk berwudlu serta membaca basmalah sebanyak dua puluh satu kali sebelum tidur.
Ia tidak bisa tidur lagi. Wajah itu masih berkelebatan di kelopak matanya. Lalu Agil beranjak dari tempat tidur. Ia pergi ke kamar mandi untuk berwudlu. Karena tidak bisa tidur lagi, ia akan menghabiskan malam ini dengan munajah pada-Nya.
Hati Agil berdzikir sendiri. Dingin udara pagi seolah jadi tak berarti. Agil tahu ia tidak sendiri.
Bismillah…
Nikmatnya munajah di tengah gerimis pagi.
‘Damaikan hatiku, Rabbi….’
---@@@----
Sudah dua minggu Agil berada di rumah, dan pagi-pagi saat ia pulang dari lari pagi keliling kampung, ia dikejutkan dengan keberadaan mobil pribadi Kyai Syaifullah di luar pagar halaman rumahnya.
‘Siapa yang bertamu ke rumah pagi-pagi gini? Masa’ sih Kyai Syaiful? Tapi ini emang bener-bener mobil beliau.’ Agil bertanya-tanya dalam hati.
Saat Agil hendak masuk ke kamarnya, ia dipanggil Umminya.
“Ka’dintoh , Nyik?”
“Dipanggil Abah tuh di depan.”
“Siapa tamunya, Nyik?”
“Kyai kamu di Sampang.”
“Kyai Mahmud, Nyik?” Agil mulai gelisah.
“Bukan. Kyai Syaifullahnya. Bertiga. Tapi Nyik nggak tau siapa yang dua orangnya itu.”
Agil lekas-lekas ke kamar dan mengganti kaus oblong yang dipakainya lari pagi tadi dengan baju koko putih. Ia kenakan pecinya dan segera keluar menemui Abah serta Kyai Syaiful.
Agil sungkeman pada Kyai Syaifullah terlebih dahulu, kemudian pada dua orang laki-laki di samping Kyai Syaiful.
“Kyai Syaiful ini baru dari Malang Selatan, Agil. Beliau mampir dulu ke sini sebelum kembali lagi ke Madura.” KH. Hamid, Abah Agil, bercerita tanpa Agil minta.
Agil hanya mematung saja di tempat duduknya. Ia tidak tahu harus menjawab apa nanti. Dalam hati, ia serahkan semua keputusan pada Abahnya saja. Pun mereka juga tidak lagi mengajak Agil bercakap-cakap.
Kali ini benar-benar terjadi pergulatan hebat di dalam batin Agil. Ia bingung luar biasa. Sudah jam empat dini hari tapi matanya sama sekali belum terpejam. Qiyamul lailnya sudah selesai sejak sejam lalu. Itupun lebih lama dan lebih panjang dari biasanya. Tapi entah kenapa, kelopak mata Agil masih juga begitu sulit untuk dipejamkan. Sudah dua hari ini ia tidak bisa tidur. Pikirannya penuh dengan Ulul Albab, Assyafi’iyah, dan Hidayah. Menimbang-nimbang antara diam di rumah dan mengajar di Madrasah Assyafi’iyah, kembali ke Ulul Albab meneruskan studi, atau kembali ke Hidayah dan kembali pula dibayang-bayangi nama Faradisa.
Abahnya sudah menyetujui permintaan Kyai Syaifullah dan mengijinkan Agil untuk kembali ke PPs. Hidayatul Muqorrobiin. Tapi entah kenapa Agil masih saja gamang.
Ia bangkit dari sajadahnya, berdiri lalu berjalan menuju jendela mungil di dinding sebelah timur kamarnya. Menyibak tirai biru muda dan memandangi bintang-bintang yang berantakan memenuhi langit gelap di atas rumah. Agil mendekatkan kepalanya ke kaca jendela. Ia mendongak ke arah langit timur, ada rembulan separuh menggantung di sana. Melihatnya, Agil merasakan kedamaian. Ia menemukan kesejukan dari semua keletihan memikirkan semua dilemanya saat ini.
‘Hidayatul Muqorrobiin adalah mediaku berjuang di jalan Allah. Hanya ini yang bisa aku sumbangkan, tenaga dan pikiranku. Harta aku tak punya. Ya, aku kembali saja ke Sampang. Ini adalah investasi akhiratku. Tidak boleh kusia-siakan hanya karena masalah cinta.’ Agil bicara sendiri dalam hati. Pikirannya menerawang jauh ke Hidayah. Walau ragu, ia ambil juga keputusan untuk kembali ke Hidayah. Ia hanya tinggal memantapkan hatinya saja.
Ya Muqalibal Qulb..
izinkan aku brjihad di jalanMu dengan hatiku
Kembalikan hatiku pada-Mu bila ia tak lagi memandangMu
Ya Kariim.....
Ini hatiku kupersembahkan padaMu
agar ku tak lagi bingung dan gundah jika ada yang meminta hatiku
sehingga ia akan meminta hatiku padaMu
Ya Wahiid...
Hatiku hanya satu kutitipkan padaMu Yang Satu
maka biarkan ia pada orang yang bersatu dalam cintaMu.....
---@@@----
Di belahan bumi lainnya, tepatnya di desa Konang Utara. Sebuah desa yang termasuk wilayah terpencil di daerah Bangkalan Madura, karena sampai saat ini daerah itu masih belum juga tersentuh aliran listrik.
Arul dan Fara tinggal di sana. Di sebuah rumah bilik mungil yang redup karena hanya mengandalkan penerangan kecil dari lampu damar. Lampu ala kadarnya yang terbuat dari toples kaca kecil atau kaleng kecil bekas yang dipasangi sumbu dan minyak tanah. Lampu ini dirancang sendiri oleh masyarakat sekitar dan telah dipergunakan selama berpuluh-puluh tahun atau mungkin bahkan sejak ratusan silam. Tidak ada yang tahu pasti siapa yang menemukan lampu damar pertama kali.
Sumber mata pencaharian utama masyarakat Konang Utara adalah bertani. Di luar itu, mayoritas pergi mengadu nasib ke pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, hingga ke luar negeri.
Bagi penduduk desa Konang Utara yang keadaan ekonominya lebih baik, bisa memasang lampu neon atau bahkan televisi dengan bantuan tenaga surya. Tapi untuk keluarga Arul dan Fara, uang yang ada lebih baik dipergunakan untuk makan sehari-hari dan biaya hidup Fara dan Arul di pesantren.
Fara sedang ada di langgar rumahnya saat diam-diam Arul memberitahu bibinya kalau Fara disukai guru tugas di pesantrennya di Hidayah. Arul bahkan menunjukkan pula surat dari Agil yang tidak ia berikan kepada Fara. Bibinya terlihat semangat sekali mendengar cerita Arul.
“Orangnya baik sekali sama Arul, Bi. Dia malah memperlakukan Arul berbeda dengan teman-teman Arul lainnya, Bi. Dia juga pernah bilang kalau Arul udah seperti adik bagi Ustadz itu, Bi.”
Bi Saroh yang mendengarnya semakin berbinar-binar. Ini adalah jodoh yang cocok bagi perempuan desa secerdas Fara, pikirnya. Bi Saroh memang memiliki pemikiran yang lebih maju dibandingkan perempuan-perempuan lain di keluarganya. Ia menghabiskan masa mudanya di Sumatera bersama orang tuanya. Bahkan sempat kuliah di sana walau terputus di tahun kedua karena faktor finansial. Nama Faradisa yang agak berbau kota pun dia yang mengusulkannya.
Ia lalu bertanya pada Arul, “terus… kapan Ustadz itu ke rumah, Rul? Eh, Ustadz siapa tadi namanya?”
“Ustadz Agil namanya, Bi. Rumahnya di Lumajang Jawa Timur. Tapi, Bi, buat apa dia ke rumah?”
“Ya buat ngelamar Mbakmu lah! Buat apa lagi? Kata kamu dia serius tertarik sama Fara.”
“Nggak mungkinlah, Bi. Arul udah bilang sama Ustadz Agil kalau Mbak Fara udah tunangan. Dia malah titip salam sama Mbak Fara. Katanya dia minta maaf karena sudah lancang berani suka sama milik orang.”
Bi Saroh terperanjat. Dia benar-benar tidak percaya Arul bisa berbohong sefatal itu pada gurunya sendiri.
“Arul!!! Apa yang udah kamu perbuat, Ruuuull?? Kamu tau nggak sih kalau kamu itu sudah menghalangi cinta mereka. Astagfirullah, Ruul!!!” Bi Saroh marah besar. Ia kesal dan benar-benar kecewa pada Arul.
“Seporanah , Bi. Abis Arul ngerasa Ustadz Agil nggak pantes kalau jadi kakak ipar Arul. Kita ini punya apa?”
“Nggak pantes nggak pantes gimana? Mbak Fara itu kan cerdas. Pinter. Dari pada cuma kerja tani di sini lebih baik dengan Ustadz kamu itu. Dengan begitu hidup Fara bisa lebih bermanfaat bagi orang lain.” Bi Saroh masih emosi. Nada suaranya naik beberapa kali lebih tinggi dari beberapa saat yang lalu.
“Kamu punya nomer telfonnya, Rul? Kita telfon Ustadz Agil sekarang juga!”
“Punya sih, Bi. Tapi masa mau nelfon malam-malam begini? Masa malam-malam gini kita harus ke pasar?”
Arul meminta Bi Saroh mempertimbangkan lagi perintahnya. Di desanya belum ada wartel. Satu-satunya wartel terdekat dari situ ada di pasar Konang yang jaraknya sekitar 2 kilometer dari rumahnya.
“Nggak bisa, Rul! Kita harus segera memberi tahu guru kamu. Bagaimana kalau dia terlanjur menganggap ucapanmu benar terus nggak kembali lagi ke pesantren kamu?”
Arul akhirnya menurut. Sementara dia mencari nomor Ustadz Agil di tumpukan buku-bukunya, Bi Saroh sudah melesat ke rumah tetangga di sebelah selatan rumah mereka untuk meminjam sepeda motor.
Arul dan Bi Saroh membelah kegelapan desa Konang Utara yang pekat. Jalanan berbatu besar-besar tidak menyurutkan perjalanan mereka. Butuh waktu sekitar 45 menit dengan mengendarai sepeda motor untuk tiba di pasar Konang.
Setibanya di pasar, Bi Saroh langsung turun dari motor. Meminta kertas bertuliskan nomor handphone dan bergegas menuju wartel kecil di salah satu toko. Arul menunggu di luar.
Tergesa-gesa Bi Saroh menekan tuts-tuts nomor sesuai yang tertulis di kertas Arul.
Tidak ada jawaban.
Hanya ada suara mesin penjawab dari ujung sana.
‘Maaf, nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Cobalah beberapa saat lagi.’ Bi Saroh mulai gelisah. Dipanggilnya Arul.
“Rul… ini nomernya bener nggak, sih?” Bi Saroh memberikan kertas itu kembali pada Arul. Tak sabar.
“Iya, Bi. Memang ini nomernya.”
“Tapi kok nggak nyambung-nyambung, Rul?”
Arul mengambil alih gagang telfon, ia menekan ulang tuts-tutsnya. Masih jawaban yang sama yang terdengar. “Mungkin HP-nya lagi nggak aktif, Bi. Kita coba lagi deh kapan-kapan ya.”
Setelah berkali-kali mencoba menghubungi nomor Ustadz Agil yang selalu berakhir dengan kegagalan, akhirnya mereka menyerah. Mereka sepakat akan mencobanya lagi di lain waktu. Kalau ada kesempatan lain untuk bisa ke pasar Konang lagi.
Sayangnya, mereka tidak tahu, kalau Agil sudah mengganti nomor handphonenya.
---@@@----
Akhirnya Agil kembali ke PPs. Hidayatul Muqorrobiin. Di sana, seperti biasa di tahun sebelumnya, Agil meneruskan program LPBA (Lembaga Pendidikan Bahasa Asing), dan menjadi guru fak Bahasa Arab, Fiqh, Nahwu, Manthiq, dan sesekali pelajaran yang lain yang kebetulan gurunya berhalangan hadir. Mulai dari Madrasah Tsanawiyah sampai Aliyah. Bahkan Agil juga diberi amanah menjadi TU Madrasah Aliyah. Mulai dari pembuatan kurikulum, jadwal, ujian, hingga penulisan soalnya Agil yang mengerjakan. Seorang diri!
Sebenarnya sosok Agil biasa saja. Tidak ada yang terlalu istimewa. Penampilannya sederhana tapi bersahaja. Kulitnya sawo matang, tingginya semampai dengan tubuh yang tegap. Tapi tatapan matanya tajam dan teduh. Orang-orang di sekitarnya juga suka sekali bila Agil tersenyum. Manis. Hanya saja, sekarang tubuh Agil tampak lemah dan jauh lebih kurus dari biasanya.
Agil sengaja menyibukkan dirinya sendiri agar pikirannya tidak sempat mengingat Fara dan Arul. Agil tidak lagi peduli dengan kesehatannya. Ia memforsir tenaganya secara berlebihan. Bekerja sampai pukul 3 dini hari setiap harinya. Biasa lupa makan, jarang minum, dan juga jarang sekali tidur. Hingga puncaknya, kesehatannya menurun. Ia pun jatuh sakit. Dari hasil pemeriksaannya di puskesmas kecamatan, ia pun divonis terkena gejala radang Liver.
Kualirkan sepi tak bertepi
yang mengarus lurus di bayang
mengarung dalam belukar ingkar
berjalan dalam kumparan keraguan
karena aku harus menjadi yang tak lagi dikenali
baik oleh waktu yang merabu
maupun oleh dirimu yang menunggu.
Sejak sajak-sajakku terperangkap
dalam alur palung tak berdasar
pada impian kabut-kabut.
Pada arah tak menepi
pada hampa yang berlari
juga pada gaung angkasa yang terjarah.
Aku mau lari dari kesiap sepi
yang akan membawa jiwa lagi
ke rimba tak berpenghuni
---@@@----
Tirai tipis jendela kantor tersibak. Tangan Ustadz Kamil yang menyebabkan helai tirai itu berpindah dari tempatnya semula. Ustadz Kamil mengintip seseorang yang sedang sibuk mengetik di depan monitor di dalam. Rupanya sosok itu adalah Agil. Sejak tiga bulan terakhir setelah liburan kemarin, kantor TU Aliyah telah menjadi rumah kedua bagi Agil.
Ustadz Kamil masuk ke dalam. Suasana Hidayatul Muqorrobiin lengang. Ustadz Kamil langsung duduk begitu saja di sofa kantor. Ia hanya melihat Agil yang tetap tidak bergeming. Sepertinya Agil masih tidak menyadari keberadaannya.
Tak berapa lama, masuk pula Ustadz Jamal. Tidak seperti Ustadz Kamil, ia justru langsung menuju Agil.
“Minum obatnya dulu, Ustadz! Sampeyan itu jangan bekerja terlalu berlebihan seperti ini. Istirahat dong! Nikmati hidup! Eman-eman dong sama umurnya. Masih muda kok sudah kena gejala penyakit serius seperti itu.”
Agil nyengir. Perkataan Ustadz Jamal memang benar. Tapi ia masih enggan beranjak dari depan layar komputer. Tangannya masih asyik menari-nari di atas keyboard.
“Biar Fara nggak mampir, Ustadz.” Agil berkata pelan sembari tersenyum. Getir. Matanya tetap tidak lepas dari layar monitor.
“Loh? Emang Ustadz ganteng ini sakit apa, Mal?” Ustadz Kamil mulai bersuara.
Agil terperanjat. Menoleh.
“Sejak kapan Ustadz Kamil ada di sini?” Agil benar-benar kaget. Dikiranya hanya ada dia dan Ustadz Jamal di ruangan ini. Apalagi barusan ia sempat menyebut nama Fara.
“Dari tadilah! Aku udah duduk di sini dari tadi kok. Gimenong sih kok gak nyadar? Pacaran sama komputer mulu sih!”
Agil tertawa sumbang.
“Ini, Mil… Ustadz ganteng kita yang satu ini mulai bandel. Dia nggak lagi mempedulikan badannya. Obat-obatnya masih pada numpuk di kamarnya. Baru dia minum kalau rasa sakitnya kambuh.”
“Emang dia sakit apa?”
“Gejala Liver.”
“Hah??” Ustadz Kamil terperanjat. Bibirnya membentuk huruf O lebar. “Kok nggak bilang-bilang sih Jamal sama Ustadz Agil ini ke aku?” protes Ustadz Kamil lagi.
“Saya nggak ingin ada yang tau, Ustadz. Takut ada yang khawatir. Juga takut kedengeran Kyai dan sampai ke rumah.” Agil menimpali.
“Ustadz Agil ini memang kecapekan. Sebenernya ada masalah apa sih, Ustadz? Cerita dong biar aku bisa bantu. Tadi juga, kalau nggak salah denger sampeyan nyebut Fara. Apa si Fara di pondok putri itu kah?”
“He is have a big problem, Mil.” Ustadz Jamal yang menjawab.
Lalu mengalirlah kisah Agil, Arul dan Fara dari mulut Ustadz Jamal. Ustadz Kamil serius mendengarkan.
“Kata siapa. Mal? Fara itu nggak punya tunangan.” Timpal Ustadz Kamil usai Ustadz Jamal selesai bercerita..
“Punya kok. Lha wong adiknya, si Syahrul itu sendiri yang bilang kalau mbaknya udah punya tunangan. Tanya aja sama Ustadz Agil. Iya kan, Ustadz?” Ustadz Jamal menoleh pada Agil. Tapi Agil tak menjawab. Ia masih diam. Hampir tanpa ekspresi.
Ustadz Kamil tidak terima. “Lah, kalian ini dibilangin sama yang bener kok ngeyel sih!! Aku kan sudah jadi khadam ndalem dari pertama mondok. Udah bertahun-tahun. Wira-wiri pondok putri. Fara juga khadimah ndalem. Jadi aku ya akrab juga sama si Fara. Wong kami kalau masak selalu bersama-sama, kok.”
“Nah, Ustadz Agil, kalau yang diomongin sama Kamil ini bener, Sampeyan masih punya harapan. Bukan hanya sedikit, tapi banyak!” Ustadz Jamal kembali antusias.
Di kursinya, Agil merasakan gemuruh di dadanya semakin gaduh. Matanya berbinar. Kemarin-kemarin matanya yang sempat redup, kini menyala kembali. Agil merasa separuh dari jiwanya telah kembali lagi.
Ustadz Kamil bangkit. “Kalau gitu, sekarang Ustadz kembali ke kamarnya. Diminum dulu obatnya. Aku kontrol nih sama Jamal biar sampeyan nggak bandel lagi. Kalau masalah si Fara sih kami bantu. Kalau jodoh juga nggak akan kemana.”
Ustadz Jamal menarik lengan Agil dan Ustadz Kamil mendorong punggungnya keluar. Berdua mereka menyeret Agil ke kamarnya. Agil tertawa-tawa. Ia bahagia karena masih banyak orang yang peduli padanya.
---@@@----
Pemberitahuan mengenai Liburan hari Raya Idul Adha sudah diumumkan. Liburan berlangsung tiga hari, mulai dari hari Selasa sampai hari Kamis. Idul Adha sendiri jatuh pada hari Rabunya. Bagi santri yang berdomisili di daerah sekitar, bisa pulang ke rumahnya masing-masing. Tapi untuk santri yang berasal dari daerah di luar Madura harus bersabar tetap tinggal di pesantren dan merayakan Idul Adha di sini. Peraturan pesantren Hidayatul Muqorrobiin melarang santri dari luar daerah untuk pulang saat liburan Idul Adha. Alasannya adalah waktu libur yang ditetapkan sangat singkat dan khawatir jarak yang jauh itu bisa menyebabkan atau dijadikan alasan oleh santri untuk kembali terlambat ke pesantren dan tertinggal pelajarannya.
Agil adalah salah satu orang yang memilih tetap bertahan di pesantren. Ia ingin merasakan merayakan hari raya di tempat tugasnya, berbagi bersama anak-anak didiknya.
Pagi harinya, Ustadz Haidar mendatangi kamar Syahrul tapi Syahrul tidak ada di tempat. Saat Ustadz Haidar hendak pulang, dilihatnya dari jauh Syahrul baru datang. Ia memanggilnya.
“Dari mana kamu, Rul? Aku dari tadi di sini nungguin kamu.”
“Maaf, Ustadz. Saya baru selesai mandi, cuci-cuci dan menjemur cucian saya. Ada apa Ustadz?”
“Kamu didhikani Kyai Mahmud. Disuruh datang ke ndalemnya. Ya sudah, aku mau balik ke kamar.”
“Makasih, Ustadz.” Jawab Arul
“Ingat, Rul. Sekarang!” Ustadz Haidar mengingatkan sambil berbalik pergi.
Setelah menyimpan handuk dan ember cuciannya, Arul mengenakan kopyah hitamnya lalu segera pergi ke ndalem Kyai Mahmud.
Sesampainya…
“Kamu yang namanya Syahrul Karim?”
“Benar, Yai…” jawab Arul takdzim.
“Adiknya Fara?” Tanya Kyai lagi.
“Engghi, abdhinah , Yai.” Arul masih menunduk.
“Ini Rul, kamu kasihin surat ini ke ayah kamu. Terus suruh dia ke sini besok, ya” Kyai Mahmud memberikan secarik kertas tanpa amplop ke Arul. Di dalam surat itu Kyai memberitahukan kalau Fara binti Arman disukai Ustadz Fahry dan bermaksud akan dipinang. Kyai mengenal ayah Arul karena Pak Arman, Ayah Arul, adalah alumni Pesantren Hidayatul Muqorrobiin juga.
---@@@----
Ustadz Kamil, Jamal, dan Agil duduk melingkar melepas lelah setelah mereka bertiga bersama-sama membersihkan Aula. Aula utama pondok putra ini akan dipergunakan sebagai tempat santri-santri takbiran nanti malam.
“Ustadz Agil, kalau boleh aku kasih saran ya, sebaiknya Ustadz ini cepat-cepat melamar Fara. Itupun kalau Ustadz benar-benar serius sama si Fara. Takut keduluan orang lain.” Ustadz Kamil bersuara setelah jeda senyap beberapa menit sebelumnya.
Agil terhenyak. Menahan sedikit deburan di hatinya.
“Keduluan siapa, Mil? Apa kamu yang mau ngelamar Fara?” Tanya Ustadz Jamal.
“Bukan, Mal! Kalau sama aku mana mau si Fara itu. Gini kawan, soalnya aku dengar kalau ada Ustadz alumni sini yang sedang mencari pendamping. Terus sama Kyai, ditawarin Fara. Nah… takutnya si Fara bener-bener jadi dengan Ustadz itu. Aku nggak setuju aja Fara sama dia.”
“Siapa Ustadz itu, Mil?” Ustadz Jamal bertanya lagi. Sedangkan Agil masih diam. Tapi tak urung raut wajahnya berubah. Ia mendengarkan setiap cerita dengan seksama walau tak ikut angkat bicara.
“Itu loh, Mal. Ustadz Fahry.”
Ustadz Jamal menepuk keningnya. “Oh… itu tah?! Iya, aku juga nggak setuju kalau sama dia. Jauh lebih baik dengan Ustadz Agil ini aja.”
“Anapah, Ustadz? Serah Ustadz Fahry ka’yeh ?” Akhirnya Agil bertanya.
“Ustadz Fahry itu santri Hidayah ini juga tapi sudah lulus. Sekarang dia jadi guru tugas keluar. Saat ini dia sedang dalam masa tugas yang ketiga kalinya setelah masa tugas pertama dan kedua gagal karena banyak terjadi kasus pelanggaran.” Ujar Ustadz Jamal lugas.
Ustadz Kamil menambahkan, “dia memang terkenal kurang baik, Ustadz Agil. Dia satu tahun di atas aku dan Jamal. Kawan-kawan seangkatannya dia di sini sudah menjabat sebagai Ustadz semua. Seperti Ustadz Harun, Ustadz Nasir, Ustadz Huda, dan lainnya. Tapi dulu di antara kawan-kawan seangkatannya, Ustadz Fahry itu terkenal sebagai santri mbeling, santri yang banyak melanggar peraturan pesantren. Sampai-sampai nih ya, hampir satu kelas tidak dinaikkan gara-gara ulah Ustadz ini.”
“Makanya, kami jelas nggak setuju Fara sama dia. Masa Fara mau dikasihkan sama Ustadz jadi-jadian kayak dia?”
“Husss… jangan begitu. Toh saya juga cuma segini. Tidak punya apa-apa yang bisa dibanggakan. Cuma laki-laki miskin, bodoh, tampang pas-passan.”
“Ya nggaklah, Ustadz. Ustadz Agil ini betul-betul cocok sama Fara. Kalau nggak cocok buat apa kami mendukung sampiyan.”
Suara beduk adzan Ashar mulai terdengar dari speaker Musholla. Mereka bertiga pun beranjak membubarkan diri. Hanya saja, perbincangan mereka kali ini betul-betul membekas di kalbu Agil. Ia mulai gelisah.
---@@@----
Seluruh santri Hidayatul Muqorrobiin putra-putri baru saja kembali dari Masjid Jamik As-Syafa’ah di luar kompleks pesantren. Sejak dulu memang seluruh santri Hidayah melaksanakan shalat sunnah Hari Raya di masjid Jamik Asy-Syafa’ah.
Agil baru saja keluar dari ndalem Kyai Mahmud. Bersama-sama Ustadz Huda dan Ustadz Harun ia sungkem ke Kyai. Setelah mereka bertiga keluar, mulailah ramai para santri berbondong-bondong menuju ndalem untuk sungkem pula. Ini sudah menjadi tradisi di Hidayah.
Tiba-tiba muncul seorang santri berjalan menuju ke arah Agil.
“Ustadz Agil dapat telfon di ruang informasi. Katanya dari rumah. Ustadz ditunggu sekarang di ruang informasi.”
“Iya, makasih.” Agil berbalik. “Saya pamit sebentar….” katanya lagi pada Ustadz Harun dan Huda.
“Salam sama mertua ya, Gil!” teriak Ustadz Huda.
“Mertua tetangga, tah?? Wong saya nggak punya saudara cewek kok, Ustadz.” Balas Agil sambil lalu.
Sayup-sayup terdengar kedua Ustadz tadi serempak tertawa-tawa.
Agil lalu berlari-lari kecil menuju ruang informasi. Ia tidak mau orang rumahnya terlalu lama menunggu.
Di ruang informasi….
“Assalamu’alaikum, hallo??”
“Ya Wa’alaikumsalam warahmatullahiwabarokatuh. Agil, ini Nyik. Kamu gimana di sana? Sehat? Betah?” Ummi Agil menyahut. Agil selalu memanggil Umminya dengan panggilan Nyik.
“Iya, Nyik. Alhamdulillah. Bedheh napah , Nyik? Nyik, Agil kangen sama Lumajang, sama Semeru.” Entah kenapa, kali ini sifat kekanakkan Agil muncul. Setelah semua kepenatan yang Agil alami, ia ingin bermanja dengan Umminya walau hanya via telfon.
“Nggak apa-apa, nak. Kamu yang sabar aja di sana. Gimana lebaran haji di sana, nak?”
“Gitulah, Nyik. Sama seperti di Ulul Albab dulu. Sama-sama seperti ada yang kurang karena nggak berkumpul dengan keluarga.”
“Lah, kan biasa, Gil. Toh waktu dulu di Ulul Albab kamu juga pernah kan sekali lebaran haji nggak pulang ke Lumajang. Tenang aja, wes. Besok hari Kamis Nyik ke sana. Tapi cuma dengan Zahwa. Abah sama Kak Ilham mau ke Jombang besok.” Zahwa adalah istri dari kakak Agil satu-satunya, Muhammad Ilhamka Nidzam.
“Nggak apa-apa, Nyik. Pokoknya Nyik ke sini besok.” Agil semakin mengharap kedatangan Umminya ke Madura. Agil sudah bertekad hendak jujur pada Umminya dan meminta beliau untuk melamar pada Kyai. Ia ingin serius mengkhitbah Fara. Agar hatinya tak terus-menerus gundah.
---@@@----
Tapi takdir berkata lain….
Hari Kamis keesokannya tepat pukul sembilan pagi, Agil dipanggil Kyai ke ndalem karena Umminya datang. Tapi Ummi Agil terlanjur masuk ke ndalem Kyai Syaifullah yang letaknya di kompleks pondok putri. Agil sempat melihat di ruang tamu ndalem Kyai Mahmud sudah ada Ustadz Fahry bersama Kyai.
Agil berpapasan dengan Ustadz Kamil.
“Maaf, Ustadz. Itu di ruang tamunya Kyai ada tamu ya. Siapa?”
“Oh, itu… itu Ustadz Fahry. Udah dari sepuluh menitan yang lalu Ustadz Fahry dengan Kyai di situ.”
“Ooohhh…” Wajah Agil meredup seketika. Tapi ia berusaha tetap bersikap sebiasa mungkin. Perasaannya mulai tidak enak.
“Kenapa, Ustadz?”
“Oh.. eh… nggak! Nggak ada apa-apa. Cuma tanya aja. Ya sudah Ustadz, Makasih. Saya mau ke ndalem Kyai Syaiful. Ummi saya datang.” Agil mohon pamit. Tapi hatinya sudah tidak seriang tadi.
---@@@----
Ruang tamu Kyai Mahmud lebih luas dari ruang tamu Kyai Syaiful. Tempat ini juga sering dipakai sebagai tempat berkumpulnya keluarga besar Bani Zarkawi.
Pak Arman baru tiba beberapa menit setelah Ustadz Fahry pulang. Setelah Pak Arman dan Kyai berbincang-bincang sebentar, Kyai Mahmud meminta istrinya, Nyai Humairoh untuk memanggil Fara.
“Fara … itu ayah kamu ada perlu sama kamu.” Dawuh Kyai Mahmud.
“Ada apa, Pak?” Tanya Fara pada ayahnya pelan. Fara tidak berani menatap ayahnya karena ada Kyainya di situ.
“Kamu kan udah besar, Ra. Kamu mau nggak kalau dipinang sama guru tugasan? Orangnya juga masih tugasan sekarang.”
Fara terkejut. Spontan dia menatap ayahnya. Fara melihat kesungguhan pada wajah ayahnya. Ayahnya tidak sedang bercanda. Fara menduga-duga. Siapa gerangan Ustadz yang dimaksud ayahnya itu.
Fara teringat Ustadz Agil. Belakangan ini ia sering digojlokin dengan Ustadz itu. Entah karena sering digojlokin dengan beliau atau karena mendengar sifat-sifat Ustadz Agil yang pintar dan santun itu terkenal hingga ke pondok putri, sebenarnya Fara menaruh hati. Fara sempat berharap pria seperti Ustadz Agil yang kelak menjadi suaminya.
Fara juga tau kalau dia disukai seorang guru tugas, yakni Ustadz Agil. Tapi Fara tidak berani meyakininya. Ia takut ia hanya kegeeran dan mengharap orang seperti Ustadz Agil yang tidak pantas bersanding dengannya.
Fara sumringah. Tanpa banyak bertanya ia berkata pada ayahnya.
“Fara terserah Bapak aja. Kalau menurut Bapak ini baik buat Fara, Fara menurut.”
Fara mengira bahwa Guru Tugasan yang dimaksud ayahnya adalah Ustadz Agil. Walau tidak tahu rupa Agil seperti apa karena belum sekalipun mereka pernah bertemu, tapi Fara yakin padanya dari cerita-cerita kawan-kawannya tentang kepribadiannya. Dan orang seperti dia yang Fara harapkan.
---@@@----
Liburan Maulid…
Agil berada di rumahnya di Lumajang.
‘Astaghfirullah Robbal baroya.. astaghfirullah.. minal khotoya….’ Suara dering penanda pesan masuk dari handphone Agil berbunyi. Agil baru masuk ke kamarnya. Ia baru selesai mandi pagi. Tangannya sibuk mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk merah besar.
Agil meraih Nokia 6630-nya di atas tempat tidur. Ada pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Ia membukanya. Tapi betapa terkejutnya Agil, saat dibaca, isinya jauh dari dugaan Agil.
‘Aslmlkm, sy Fara dr Konang Utra. mf Ust Agil. Sy sngt mnysal knal dgn org sprti Ust. Sy bnr2 bnci pd Ust. Sy hrp Ust tdk prnh kmbli lg ke PPs Hdyh. 1 hal yg prlu Ust ctat baik2, SY BNR2 BNCI UST AGIL. SY BEENNCCCIIII…….!!!!’
Agil tersentak. Ia benar-benar tidak habis pikir. Kenapa Fara sampai sms kepadanya seperti itu? Padahal sebelum-sebelumnya mereka tidak pernah sms-an. Jangankan saling kirim sms, bertemupun belum pernah. Agil juga tidak tahu dari mana Fara mendapatkan nomor handphonenya. Ia menduga Fara pasti tahu dari adiknya Ustadz Jamal, Mufidah. Ini kali pertama Fara sms padanya dan isinya pun sangat menohok hati Agil. Agil berusaha keras mengingat-ingat apa kesalahannya sehingga Fara bisa sebenci itu padanya. Tapi nihil yang ia dapatkan. Sungguh Agil tidak mengerti apa kesalahannya.
Pada hari yang sama, pada lokasi yang berbeda…
Di Sampang, di pinggir sungai yang jernih di belakang pesantren Hidayatul Muqorrobiin Putri, Fara dan Mufidah duduk berdua. Duduk di antara batu-batu besar sungai. Sudah satu jam mereka berada di tempat ini. Tapi Fara masih belum mau pulang ke pondok, untung saja Mufidah tetap setia menemani.
Suara angin berdesir lirih. Menggoyang-goyang dahan dan dedaunan pohon bambu yang mengeliling di sekitar sungai.
“Ternyata belajar mencintai orang yang nggak kita cintai sulit banget ya. Rasanya seperti terpaksa melukai diri sendiri demi menyelamatkan orang lain,” Fara mendesah.
Mufidah tersenyum, ia paham betul kegelisahan Fara, sahabat sejak awal ia nyantri di Hidayah ini.
Fara memainkan tangkai ilalang di tangannya. Memandang jauh pada ujung pucuk pohon kopi. Pohon itu berada di kompleks pesantren puteri. Tepat di depan kantor pondok puteri. Tapi karena begitu tinggi, pohon itu bisa terlihat dari pinggir sungai ini. Melihat Fara tercenung, Mufidah lalu merengkuh bahu Fara. Mencoba berbagi damai pada hati Fara yang kalut.
“Tuliskan rencanamu dengan sebuah pensil. Tapi berikan penghapusnya pada Tuhan. Ijinkan Dia yang menghapus bagian-bagian yang salah dan menggantikan dengan rencanaNya yang indah dalam hidupmu.”
Fara mendongak. Tak percaya pada apa yang ia dengar dari mulut sahabatnya itu. Usia Mufidah memang lebih muda darinya, tapi terkadang Mufidah bisa menjadi jauh lebih bijak. Nanar ia memandang wajah Mufidah. Mencari keteduhan dari mata Mufidah. Mufidah membalas tatapannya lembut.
“Tenanglah, Mbak. Aku di sini untuk menguatkanmu,” lirih Mufidah sambil menggenggam tangan Fara.
“Aku bingung, Ida… Semoga keputusanku ini tidak salah.”
Gemericik suara aliran sungai mengiringi kekalutan hati Fara ….
Malamnya, Fara kian gelisah. Sepanjang malam ia hanya membolak-balikkan tubuhnya di tempat tidur. Sulit sekali hanya sekedar memejamkan mata.
Fara beranjak dari tempat tidurnya. Ia ambil sebuah buku diary biru di dalam tas besarnya. Fara mulai mengguratkan yang ia rasakan di kertas putih diary itu.
Entah apa yang harus kutuliskan untuk menghabiskan waktu kelam tanpa bintang. Sedang bait-bait puitispun kini mulai jarang. Rentetan sajak kini mulai berjarak. Aku sendiri tak berpenghuni kala setiap kata tak lagi ada hingga hening yang tersisa. Sungguh kejam para pujangga. Yang merajam setiap kata dalam jiwa, hingga tiada tersisa apa yang harus kurasa. Bahagia ataukah suka…
Lantas aku akan berteriak kalau hatiku tidak akan pernah bisa untuk tidak mencintaimu apalagi melupakanmu. Berharap bisa mengalahkan rasa dari luka dalam sekat-sekat jiwaku. Hingga inilah aku… Yang tidak tahu malu mencoba meraih purnama dengan bekal seadanya, penuh dengan kekurangan dan kecacatan.
Kini aku telah menemukan sebenarnya cinta karena cintaku berangkat dari ikatan sahabat. Hingga cinta itu bukan lagi cinta sesaat, tapi cinta seabad dengan keindahan dari umurku yang hanya sekelebat. Tak akan goyah dulu ataupun lusa, bahkan sampai hariku tak lagi tersisa.
Selamat malam… kupersembahkan sepotong bulan di langit untuk menjadi hiasan mimpimu, Ustadz. Semoga mimpimu menjadi impian yang selangkah lagi akan kau raih. Amin…
---@@@----
Fara menengadahkan wajahnya memandang langit sore yang sudah terlihat merah. Walau sebenarnya, itu hanya usahanya agar airmata tak kembali jatuh dari matanya. Tapi air mata masih mengalir. Seperti hujan yang tak henti. Kadang rintik, berubah gerimis, lalu kembali badai. Penyesalan adalah sesuatu yang selalu terlambat. Nyaris tidak berguna, kecuali menjadi sebuah titik sejarah dalam hidup. Adakah yang lebih sedih dari pada rasa kecewa, kecewa pada diri sendiri, karena rasa bersalah.
Terlintas kembali pertengkarannya lima hari yang lalu dengan Ustadz Fahry, tunangan yang tidak dikehendakinya.
“Kak Fahry, pertunangan ini nggak usah dilanjutkan saja, Kak. Percuma!”
Ustadz Fahry kaget bukan kepalang.
“Kenapa? Ada laki-laki lain?”
“Bukan! Sama sekali nggak ada laki-laki lain! Tapi perasaan saya berat untuk menerima ini, Kak Fahry! Saya nggak mencintai Kakak! Batin saya tersiksa dengan pertunangan ini.” Fara berusaha meyakinkan Ustadz Fahry.
“BOHONG!!!!!!! PASTI ADA LAKI-LAKI LAIN, KAN?!! JAWAB FARA!” Suara Ustadz Fahry menggelegar. Fara takut.
“Billahi ! Aku bunuh orang yang berani suka sama kamu, Fara!”
Hati Fara terhempas-hempas…
Fara tergugu, sambil menunduk ia pejamkan kedua matanya dan merasakan tiap riak kesedihan menjalar pelan merambati setiap ruang di hati dengan meninggalkan jejak luka yang dalam. Fara sakit bersembunyi. Tapi gadis itu takut ucapnya makin membuat tunangannya gelap mata. Fara sadar, watak orang madura terkenal keras. Dan ia tidak memungkiri itu. Fara pun hanya bisa membisu. Dalam diam ia doakan Agil, semoga Allah anugerahkan kesabaran dan keselamatan.
‘Tuhanku.. jagalah ia dengan tangan kasihMu. Amin.’
Perlahan… Fara mulai terisak.
Fara tersentak. Lamunannya buyar. Ia tersadar bahwa apa yang ia lakukan malah semakin menyiksa. Bukan hanya menyiksa dirinya, tapi juga Ustadz Agil. Ia merasa telah menyakitinya dengan sms palsu tempo hari.
‘Kenapa aku harus berbohong pada Ustadz Agil?’ gumam Fara dalam hati.
Maka pada saat itu juga, Fara pergi ke rumah Nabil, sepupunya. Rumahnya tidak begitu jauh dari rumah Fara.
Sesampainya di rumah Nabil, Fara langsung ke kamar Nabil.
“Bil, aku pinjam HP-nya. Nanti pulsanya kuganti”
“Ambil sendiri tuh di dalam tas yang kecil warna putih.”
Fara memanggil nomor Ustadz Agil.
Tuuuuttt…tuuuuttt….
Tak ada yang mengangkat. Fara mencobanya sekali lagi. Tetap tidak ada yang mengangkat telfon di seberang sana.
Fara mencoba sms lalu kembali memanggil nomor yang sama. Masih tak ada jawaban. Bahkan saat panggilan yang entah ke berapa, nomor Ustadz Agil malah sudah tidak aktif. Seperti sengaja dinon-aktifkan. Fara tidak tahu lagi harus bagaimana menjelaskannya. Dia tahu Ustadz Agil sudah tidak mau lagi mengangkat telfon atau mendengarkan penjelasan apapun darinya. Akhirnya Fara mencoba mengirimkan sms lagi. Dia tidak tahu apakah Ustadz Agil akan mau mengerti. Tapi yang ia tahu ia sudah mencobanya.
Di tempat lain….
Agil terkejut ada panggilan masuk dengan nomor yang pernah digunakan Fara untuk sms padanya tempo hari. Kebingungan dan rasa takut mendominasi perasaan Agil. Bergumpal-gumpal. Hingga Agil membiarkan saja handphonenya berdering tanpa ia mau mengangkatnya.
Lalu ada sms masuk. Dari nomor Fara. Dia meminta Agil untuk mengangkat telfonnya sebentar saja. Tapi Agil tidak mau. Agil terlalu merasa sudah dibenci dan sangat bersalah sehingga dia tidak mau dan tidak tahu harus berbicara apa lagi dengan Fara.
Handphone Agil masih berdering. Nomor Fara masih memanggil. Serta-merta Agil menon-aktifkan handphonenya.
Ia bingung.
Setelah Ashar, Agil mengambil handphonenya. Masih dalam keadaan non-aktif. Dia teringat penghindarannya tadi siang dari telfon Fara. Ia menghembuskan nafas berat. Gusar, tangannya mengaktifkan kembali handphonenya. Saat handphone aktif, sudah ada sms masuk.
‘Ustaaaaaaadz.... ma'afin sy, sy bkn brrti mnyruh smpyn ga kmbli... tp wktu sy bilng ma tunangn sy klo kmi lbih baik gak diterusin. Dy mrh2 & dy bilng yg mau ma Fara mo dbunuh....’
Agil membaca sms Fara dengan nafas tercekat. Dia mengerti posisinya dan Fara. Walau bagaimanapun sekarang Agil memang tidak boleh terus mengharapkan Fara. Bagaimanapun ia tetap berada di posisi yang salah. Begitupun sebaliknya. Apalagi Agil tahu, adat-istiadat suku Madura yang keras. Kalau ada tunangan atau istri diganggu laki-laki lain maka clurit yang melayang. Mereka tidak segan-segan untuk menumpahkan darah.
Agil tidak mengatakan apapun. Dia hanya membalas sms Fara dengan satu kalimat.
‘Saya akan kembali.’
Message sent succest.
Pesan terkirim.
---@@@----
Tak terasa oleh waktu, impian kita membina istana surga. Sedih, senang, kebencianpun telah kita rasakan, dengan cinta dan ketulusan hati. Kini kita tinggal menunggu waktu, kapan kebahagiaan itu tiba. Kita bagaikan layang-layang yang mengulur benangnya dan terbang makin tinggi ingin mencapai langit. Tatkala angin menerjang, layang-layang itu makin kokoh terbang tinggi.
Tapi yang aku takutkan…
Layang-layang itu akan putus talinya, dan dia terbang tanpa arah dan jatuh di tangan orang lain. Dan aku, benangnya, akan tersungkur jatuh ke tanah dengan luka di hati.
Tanggal 4 Rajab adalah jadwal rutin acara Muktamar NU wilayah Madura yang diadakan tiap setahun sekali. Dan untuk tahun ini, kebetulan lokasinya diadakan di Pesantren Hidayatul Muqorrobiin Putra. Di acara sebesar ini, Agil dan Ustadz Jamal kebagian tugas sebagai penerima tamu. Mereka berdua berdiri di samping tangga menuju Aula putra. Tamu-tamu yang hadir adalah para Masyayich se-pulau Madura.
Saat mereka sedang tidak terlalu sibuk menyambut tamu, ada dua sosok santriwati keluar lewat dari gerbang putri menuju ke arah selatan. Agil mengenal salah satunya. Ning Yasmin, adik bungsu Kyai Mahmud.
“Itu loh yang lagi bareng sama Ning Yasmin yang namanya si Fara.” Bisik Ustadz Jamal di dekat telinga Agil.
Agil terkesiap. Darahnya seakan berhenti mengalir. Wajahnya pucat tiba-tiba. Agil buru-buru pamit pada Ustadz Jamal untuk pulang ke kamar sebentar.
Di kamarnya, Agil menumpahkan semua tangisan hatinya. Pipinya sudah basah. Ia segera pamit pada Ustadz Jamal tadi hanya untuk mencari tempat untuk dia bisa menangis sepuas jiwanya.
Wajah santriwati yang tidak lebih dari dua detik ia lihat tadi, jelas sama persis dengan wajah gadis yang muncul di mimpinya dua kali. Agil semakin nelangsa menyadari mengapa takdir justru tidak berpihak padanya.
Agil tahu, ia tidak sepantasnya mengeluarkan airmata. Tapi ia juga tidak bisa menipu nuraninya sendiri. Getar-getar dalam dadanya serasa menggumpal, menggunung, menyamudera. Dengan mengerjap, Agil berharap titik-titik air itu membias ke seluruh bulu mata hingga kian hilang tersapu angin.
Empat hari kemudian sejak acara Muktamar itu, malam-malam Kyai Syaifullah mendatangi Ustadz Agil di kamarnya. Ia memarahi Agil. Kyai Syaiful baru saja mendapat cerita yang sebenarnya dari istrinya.
“Bindereh tau dari mana?” suara Agil parau.
“Saya tau dari istri saya. Sedangkan istri saya sendiri diberi tahu oleh adiknya, Yasmin. Kamu nggak tau kalau Yasmin itu salah satu orang terdekat Fara?”
“Kenapa Ustadz tidak jujur saja ke Kak Mahmud? Kenapa malah saling diem-dieman seperti ini? Kalau tidak berani sama Kak Mahmud, setidaknya Ustadz ngomong ke saya. Atau ke ketua pondok, Ustadz Romli! Saya bener-bener tak habis pikir.” Kyai Syaiful berkacak pinggang membelakangi Agil. Suara baritonnya memenuhi ruangan kamar Agil.
“Kalau sudah seperti ini gimana, Ustadz Agil? Kak Mahmud terlanjur menyetujui Fahry. Lihat keadaan Ustadz sekarang! Sampiyan tampak begitu kurus. Tampak tak terurus! Pasti karena terus-terusan memikirkan ini, kan?!”
Agil tergugu. Ia tertunduk semakin dalam mendengar semua ucapan Kyai Syaiful. Semua yang dikatakan Kyai Syaiful benar. Agil diam saja. Tak ada gunanya menjawab, membela diri, atau apapun namanya. Penyesalan di hati merekapun sudah tidak ada gunanya.
---@@@----
Tanggal 1 Sya’ban, Agil bertemu Ustadz Haidar di depan kelas tiga Madrasah Tsanawiyah. Agil baru saja mengambil buku paketnya yang tertinggal di laci meja guru.
“Ustadz Agil! Kebetulan sekali kita ketemu di sini, sampeyan punya materi-materi MC?” Ustadz Haidar menegur Agil. Langkah Agil terhenti.
“Nggak punya, Ustadz. Memangnya untuk apa? Bukannya Ustadz ini justru lebih jago dari pada saya dalam hal membawa acara?”
“Untuk akad nikahnya Ustadz Fahry dan Fara tanggal 7 Sya’ban besok. Saya diminta Kyai untuk menjadi pembawa acaranya dan saya ingin kata-kata dalam MC saya nanti lain dari biasanya. Lebih istimewa gitu, Ustadz. Kan ini acara istimewa. Kedua calon mempelai sama-sama santri Hidayatul Muqorrobiin.”
Hati Agil tergetar. Pikirannya mendadak kacau. Pun ketika ia dengar suara Ustadz Haidar menceritakan sudah seberapa jauh ia merencanakan konsep acara, tetap tak mampu meredakan kesedihan yang menyeruak menyusup rongga-rongga dadanya. Suara itu begitu lirih dan lembut diucapkan, tapi sangat keras menghujam di relung hati Agil yang paling dalam.
“Seminggu lagi ya…. Emmmm… acara akad itu rencananya akan diadakan di mana, Ustadz Haidar?” Agil bertanya sambil menahan tusukan kecil perih di ulu hatinya.
“Biasanya sih di Musholla putra. Pasti seru dan meriah, Ustadz!” Ustadz Haidar berbinar.
“Iya… Pasti!” Agil tersenyum. Getir.
“Bagaimana, Ustadz? Sampiyan bisa membantu saya?” Tanya Ustadz Haidar lagi.
“Coba Ustadz datangi Ustadz Harun saja. Dia lebih berpengalaman dari pada saya,” Agil menyarankan setengah hati.
“Ya sudah saya permisi, Ustadz. Mau mencari Ustadz Harun.” Pamit Ustadz Haidar.
Agil memandangi punggung Ustadz Haidar yang menjauh. Menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat. Mencoba mengurangi perasaan sedih yang entah kenapa tiba-tiba hadir setelah menerima kabar itu dari Ustadz Haidar.
Seketika dada Agil digayuti kepedihan yang maha. Ada yang mengiris tajam di kalbunya. Sendu, menyayat kalbu. Kalau saja ada yang tahu, bagaimana luka jiwa yang ia rasakan. Hanya di sana, hanya dalam dadanya. Agil merasakan kepedihan yang dalam. Ada sesal dan pedih buncah di kalbunya. Sesal dan pedih karena tidak dapat berbuat apapun untuk Fara dan Ustadz Haidar. Juga untuk dirinya….
Bagaimana bisa ia membantu menyiapkan acara itu? Ini seperti sedang menyiapkan nerakanya sendiri.
Setitik air mata jatuh. Secepat mungkin ia hapus.
---@@@----
Agil tidak bisa berhenti memikirkan akad nikah Fara dan Ustadz Fahry tanggal 7 Sya’ban besok. Sedangkan tanggal 6 Sya’ban-nya, adalah jadwal hari pertama ujian siswa Madrasah Aliyah putra-putri. Tepat sehari sebelum acara itu.
Selama lima hari yang membuat pikiran Agil tersiksa itu, Agil ngebut mengerjakan semua hal mengenai administrasi ujian dan segala macam sesuatu yang berkaitan dengan masalah persiapan kelulusan. Dari penulisan semua soal hingga pembuatan buku memory siswa-siswi kelas tiga Madrasah Aliyah, Agil yang menggarap seorang diri.
Agil mati-matian menyelesaikan pekerjaannya. Ia ingin semuanya bisa selesai dalam lima hari ini. Agil bekerja lebih keras dari saat ia berusaha melupakan Fara dulu. Ia bekerja sejak ba’da shalat Subuh sampai jam delapan pagi. Kemudian mengajar sampai waktu Dluhur dan kembali lembur di kantornya hingga pukul tiga atau empat dini hari setiap harinya.
Pukul 2 dini hari. Agil masih berada di Kantor Administrasi.
Lengang!
Agil menangis di depan monitor. Tanpa isakan. Air matanya jatuh tepat mengenai naskah soal ujian siswa kelas tiga Aliyah di pangkuannya.
Setiap malam, kala suasana pesantren sunyi senyap. Agil selalu menangis di depan layar komputer di kantornya. Ia mengetik sambil sesekali memupus air mata. Agil benar-benar tersiksa dengan hari-harinya. Tubuhnya lemah. Badannya kurus sekali. Setiap hari Agil tidur tidak lebih dari tiga jam. Sebenarnya Agil juga merasakan kepayahan yang sangat pada tubuhnya. Tapi tidak ia hiraukan. Ia terus saja tidak memberikan kesempatan pada tubuhnya untuk istirahat.
Kalau tahu akan begini
Aku tak mau mengenalmu
Aku tak mau dekat denganmu
Aku akan menjauhimu
Karena ternyata akhirnya
Aku tak pernah bisa melupakanmu…
Hingga Agil merasakan penyakit magg-nya kambuh. Tak tahan, tanggal 4 Sya’ban Agil menelfon Umminya. Ia meminta Umminya memohonkan idzin pada Kyai Mahmud untuk Agil pulang ke rumah pamannya di Bangkalan.
Agil lega karena Umminya mengabulkan permintaannya. Setelah Ummi Agil memohonkan idzin pada Kyai Mahmud via telfon, Agil pun tetap kembali bekerja. Dan tetap tanpa istirahat.
Tanggal 6 Sya’ban. Hari ini hari pertama siswa-siswi Madrasah Aliyah Hidayah ujian semester akhir. Hari ini Agil tetap melaksanakan tugasnya sebagai pengawas ujian.
Agil berkeliling di antara bangku-bangku siswa. Suasana ruang III A yang dijaganya sepi. Semua siswa sibuk mengerjakan soal. Tapi jiwa Agil tidak berada di situ. Pikirannya mengelana.
Agil tidak sanggup membayangkan bagaimana ia harus menyaksikan ataupun hanya sekedar mendengar prosesi akad nikah itu berlangsung. Ia tidak tahu acaranya akan diadakan pagi hari atau siang hari. Walaupun pagi hari, toh dari Madrasah Aliyah ini ia akan tetap bisa mendengar jelas semuanya dari speaker Musholla. Bagaimana sanggup?
Ba’da Dluhur setelah ujian hari pertama usai, Agil segera mengambil tas ransel hijau lumutnya dan bergegas pergi. Tujuannya adalah rumah pamannya di Kota Bangkalan. Sebelum pulang tadi, ia sempat meminta Ustadz Jamal dan Ustadz Kamil, sahabat karibnya di Hidayah ini, untuk menggantikan jadwal Agil mengawasi ujian semester Madrasah Aliyah Putra.
Ia berpikir harus cepat-cepat pergi. Ia merasa seperti mati bila harus mendengarkan prosesi akad nikah wanita yang sampai saat ini masih bertahta di hatinya.
Agil pergi. Membawa serta luka hatinya yang ia bungkusi rapi….
---@@@----
Deras hujan ditingkah deru angin menyambut senja. Mentari yang tadi menyengat terusir entah kemana. Dan rinainyapun kian padat hingga Agil sibuk menghalau dingin. Angin mendesau serentak, beriring hujan yang tak peduli rinainya menciptakan ribuan batang paku-paku air.
Tiupan bayu menggigil membekukan. Hati Agil menggigil, berdesir. Nama Fara terucap tanpa sadar. Ia menggeleng lesu lalu melabuhkan pandang pada langit yang kelabu. Ia pungut puing-puing silam tanpa daya, dari angkasa yang berganti wujud ke layar raksasa.
Pikiran Agil tak pernah mampu menjawab, mengapa balutan hujan ini malah membawa setiap bayang Fara.
‘Duh hujan… cepatlah usai. Agar diri ini tak sentiasa mengingatnya. Membayangkan wajah samarnya dalam paku-paku air ini,’ Agil mendesah dalam hati.
Ia masih berada di rumah Paman Ghozali, adik kandung Umminya. Ia menerka-nerka seperti apa acara yang sedang berlangsung di Pesantren Hidayatul Muqorrobiin. Mungkin meriah. Atau mungkinkah penuh gerimis tangis seperti hatinya saat ini? Ia tak tahu.
‘Seharusnya aku bahagia, ini hari bersejarah orang yang aku sayang. Tapi kenapa masih saja ada perasaan tak rela?’ pikir Agil. Pandangannya mulai kabur. Rasa-rasanya sebentar lagi air mata Agil akan jatuh.
Adam tak tahan. Beberapa detik kemudian, dengan lutut masih gemetar, ia berlari keluar rumah ke arah utara. Dia terus saja berlari menerobos hujan yang masih deras. Tak dipedulikannya kepalanya yang sakit terkena hujaman deras air hujan dari langit. Di kebun milik pamannya, Agil berhenti.
Agil tersungkur di tanah basah kebun pamannya. Tak ada siapa-siapa di situ yang bisa mengetahui erangan memilukan Agil. Agil meraup sebongkah tanah ke dalam genggamannya lalu melemparkannya kuat-kuat. Berusaha membuang juga semua kepenatan hatinya. Percuma. Dadanya tetap dipenuhi gemuruh. Agil meninju dadanya sendiri. Ingin ia merobek jantungnya yang tidak bisa tenang hari ini. Dingin air hujan sama sekali tidak bisa mendinginkan jiwanya. Kalbunya.
Rinai hujan tak lagi deras. Awan hitam berarak menjauh. Dan hujanpun lebih bersahabat. Hingga titik hujan kini berganti gerimis. Namun… Agil tetap galau.
Kemudian angin memintas lambat. Gerimis usai. Tapi yang dapat Agil rasakan tetaplah keparahan yang sangat.
---@@@----
Langit kota Sampang justru cerah. Di Musholla Pesantren Hidayatul Muqorrobiin Putra tampak ramai. Di dalam Musholla ada Kyai Mahmud, Kyai Syaifullah, Ustadz Fahry, Pak Arman, dan semua jajaran Dewan Asatidz serta para pengurus pesantren.
Suara Ijab Kabul antara Ustadz Fahry dan Kyai Mahmud selaku penghulu terdengar jelas ke seantero Hidayatul Muqorrobiin Putra dan Putri.
‘Qobiltu nikaahaha wa tazwijaha, Faradisa binti Arman, bimahri madzkur….’
Tepat saat terdengar lafadz ‘Qobiltu’ dari speaker Musholla, Fara lemas seketika. Kepalanya berat dan matanya berkunang-kunang. Ia kembali jatuh tak sadarkan diri untuk yang kedua kalinya di kamarnya di pondok putri. Di sampingnya, ibu Fara yang masih menangis kembali berusaha menyadarkan Fara lagi.
“Faraaaaa… Bangun… Jangan seperti ini!” suara ibu Fara satu-satu. Semakin terisak.
Fara tidak kuat menahan beban jiwanya hingga pingsan. Mukanya basah oleh air mata. Teman-teman Fara tidak ada yang berani mengganggu mereka berdua karena keduanya sama-sama sedang menangis.
Ijab Kabul selesai. Sekarang giliran waktunya mempelai perempuan dipertemukan dengan mempelai pria dan melakukan tradisi sungkeman kepada mempelai pria dan mertua untuk kemudian diabadikan dengan difoto. Ustadz Fahry dan orang tuanya sudah siap pada posisinya masing-masing.
Tapi setelah lama ditunggu-tunggu, mempelai perempuannya tidak juga datang….
Tidak sabar dan merasa malu, Pak Arman mendatangi pondok putri. Dengan muka merah karena marah, Pak Arman langsung masuk ke dalam kamar Fara dan melihat Fara masih pingsan di pangkuan ibunya. Pak Arman semakin murka. Ia menganggap semua ini sekedar akal-akalan Fara. Menurutnya, ketidaksadaran Fara hanyalah pura-pura belaka.
Pak Arman mengambil kendi air minum di kamar Fara. Ia menyiramkan airnya ke muka Fara tanpa ampun.
“BANGUN KAMU! BIKIN MALU BAPAK SAMA IBU!!!” Pak Arman membentak garang.
Dalam keadaan Fara yang setengah sadar, Pak Arman menyeretnya keluar dari kamar. Ibu Fara yang tidak ridlo dengan pernikahan paksa ini berusaha melawan. Sia-sia. Tenaganya yang lemah kalah oleh Pak Arman. Pak Arman terus saja menyeret Fara. Jilbab Fara jatuh dan dengan susah payah ibu Fara berusaha mengenakannya kembali pada Fara.
Pak Arman masih menyeret. Fara meronta-ronta. Ibu Fara menjerit-jerit. Suasana gaduh. Tapi seluruh santriwati yang ikut menyaksikan tidak berani mendekat.
Gamis merah muda Fara kotor, dipenuhi oleh tanah pekarangan pesantren. Fara merasakan perih di sekujur tubuh akibat tergores batu-batu saat diseret ayahnya. Di depan gerbang pondok putri jilbab Fara kembali jatuh. Ibu Fara kembali berusaha mengenakannya pada Fara. Kemudian berkata pada Fara.
“Sudahlah, Ra! Pakailah akhlaq santri!”
Mendengar itu, Fara luluh. Ia pun berdiri. Ayahnya masih menariknya dalam keadaan berdiri, tidak seperti tadi. Fara masih memohon-mohon pada Pak Arman, tapi Pak Arman terus menariknya secara paksa. Tangis Fara tidak mau berhenti.
Seluruh santri putri berkerumun melihat aksi penyeretan Fara oleh ayahnya. Tidak ada yang berani membantu Fara atau menghalangi Pak Arman. Puluhan kawan-kawan Fara yang mengetahui bahwa Fara sebenarnya menyukai Ustadz Agil, menangis sesegukan. Mereka tidak tega dengan keadaan Fara dipaksa-paksa sampai sedemikian rupa.
Di luar gerbang pondok putri, ada banyak sekali kerumunan santri putra ramai memandang. Dengan kondisi gerbang pondok putri yang terbuka lebar seperti itu, santri putra di seberang jalan juga bisa ikut menyaksikan aksi penyeretan Fara yang memilukan dari pondok putri ke kompleks pondok putra.
Bahkan di antaranya ada Arul yang hanya bisa memandanginya dari jauh dengan air mata yang mendesak-desak keluar dari kedua matanya.
Fara berhasil ditarik hingga ke Musholla pondok putra. Para santriwati berebut untuk melihat Fara di pintu gerbang. Mereka berdesak-desakkan gaduh.
Suasana pondok putri semakin gaduh saat salah seorang santriwati yang sedang ikut berdesak-desakan di kerumunan gerbang putri itu tangannya terjepit pintu gerbang hingga luka berdarah-darah.
Pak Arman memaksa Fara untuk berdiri di dekat Ustadz Fahry. Namun Fara masih menolak untuk sungkem pada Ustadz Fahry, suaminya. Fara hanya diam. Beku.
Pak Arman lalu menarik paksa tangan Fara. Fara mendongak. Dilihatnya wajah ayahnya sudah merah padam menahan amarah.
Akhirnya semuanya berjalan…. Tapi tangisan Fara masih juga tidak mau berhenti. Fara masih terisak keras. Kyai Mahmud curiga.
Di belakang, diam-diam Kyai berbisik pada Nyai Humairoh.
“Mi, kenapa Fara itu? Tanya Kyai. “Kok sampai segitunya yang nangis? Kok dari tadi nggak berhenti-berhenti nangisnya?”
“Fara keberatan dengan pernikahan ini, Bi.”
“Masa’ sih?”
“Itu karena Fara sebenarnya sudah punya pilihan lain.” Nyai Humairoh berapi-api.
“Siapa?”
“Guru tugasan dari Lumajang itu. Katanya mereka saling menyukai dan Ustadz dari Lumajang itu juga sudah berniat meminang Fara. Tapi kedahuluan Ustadz Fahry.”
“Kenapa Ummi nggak bilang sama Abi?”
“Waktu itu Ummi masih ragu, Bi. Soalnya Ummi belum pernah menanyakan langsung ke Fara.”
Kyai Mahmud menghela nafas dan menghembuskannya kuat-kuat. Berat. Ada sepucuk penyesalan tumbuh di hatinya. Seandainya ia mengetahuinya sejak awal…
Kasihan Fara. Namun Kyai Mahmud tidak tahu siapa yang bisa disalahkan dalam hal ini. Toh, nasi sudah jadi bubur. Semuanya telah terjadi.
---@@@----
Dua hari berlalu. Prosesi akad nikah Fara selesai sudah. Agil baru berani kembali ke Pesantren Hidayatul Muqorrobiin.
“Assalamu’alaikum, Ustadz!!!” Terdengar suara uluk salam dari luar kamar Agil. Agil bangkit. Ia membukakan pintu.
“Wa’alaikum salam… Arul??? Ada apa, Rul? Kenapa kamu sampe nangis begitu? Sini.. sini… masuk aja ke dalam,” Agil merangkul bahu Arul dan menggiringnya masuk ke dalam kamar.
Arul tidak berhenti menangis. Agil mengambilkan segelas air putih, diberikannya kepada Arul. Arul menerimanya dengan masih sesenggukan.
“Makasih, Ustadz.” Ucap Arul setelah setengah dari gelas itu ia minum.
“Udahlah, sekarang kamu cerita. Kenapa kamu nangis-nangis kayak gini?” Agil mengelus-elus pundak murid yang paling disayanginya itu.
“Saya sangat kasihan dengan Ustadz dan Mbak. Sungguh saya menyesal. Saya merasa ini semua juga salah saya. Seandainya saya tidak begitu dulu, semua ini nggak akan terjadi. Semua akan terjadi seperti yang kita inginkan. Saya sakit melihat Mbak Fara tersiksa seperti itu, Ustadz. Saya benar-benar sakit… Sakit sekali rasanya merasakan penyesalan ini, Ustadz…” Arul tergugu. Air matanya terus mengalir.
“Bapak sama Ibu sudah tahu kalau Mbak Fara sebenarnya tidak mencintai Ustadz Fahry tapi menyukai Ustadz Agil. Mereka berdua juga sudah mengetahui kalau waktu itu Mbak Fara sudah keliru menyetujui karena mengira orang yang dimaksud Bapak waktu itu adalah sampiyan. Tapi Bapak sami'an watha'atan sama Kyai. Ibu nggak setuju. Beliau tidak begitu ridlo Mbak saya dipaksa seperti itu karena Ibu bukan alumni pesantren ini. Tapi Ibu nggak bisa berbuat apa-apa. Ibu tetap ikut Bapak.” Arul bercerita di tengah isaknya yang membadai.
Dalam kehidupan masyarakat Madura, memang dawuh Kyai serupa sabda. Adab dan kehormatan dijunjung tinggi. Agil mengerti Pak Arman bersikap keras pada Fara karena semua telah terlanjur disepakati bersama Kyai.
Agil mendesah, beban di dadanya semakin terasa menyesak. “Sudahlah, Rul. Biarkan Allah saja yang menjadi sutradara kita. Semua akan baik-baik saja.” Lirih Agil berkata pada Arul. Ia mencoba menghibur Arul. Atau bahkan, juga menghibur hatinya. Agil tak tahu, bagaimana caranya menguatkan Arul sedangkan hatinya juga sedang dalam kondisi kalut seperti ini. Jiwanya bagai terbelah kini.
“Ustadz… Demi Allah demi Rasulullah, saya menganggap Ustadz adalah kakak saya dunia akhirat.” Arul meremas kedua tangan Agil. Air matanya menderas. Agil semakin nelangsa. Batinnya seperti sedang diaduk-aduk. Rasa sayang pada Arul semakin membuncah. Dirangkulnya Arul erat. Dalam dekapannya, tangisan Arul tidak juga berhenti.
“Lalu bagaimana keadaan Mbakmu sekarang?” Tanya Agil tegas meski dengan suara agak tersekat di kerongkongan.
“Sejak acara akad nikah sampai sekarang Mbak Fara nggak mau keluar kamar di pondok putri sampai jatuh sakit. Tadi sore ia dijemput pulang ke rumah. Kondisi Mbak sangat lemah. Dia harus dibopong mbak-mbak santri putri untuk ke mobil.”
Cairan bening hangatpun mulai mengalir di pipi Agil dengan tanpa disadari. Agil tidak pernah merasakan perasaan sesak yang sangat seperti ini sepanjang hidupnya.
‘Ya Allah…?’ rintih Agil dalam hati. Mencoba menetralisir sesak di dadanya. Kepedihan yang maha sedang membekap kuat ulu hatinya.
---@@@----
Keesokan harinya, Agil dipanggil Ustadz Kamil.
“Ustadz… ini aku ada fotonya Fara waktu akad kemarin.” Ustadz Kamil menyodorkan sobekan foto pada Agil.
“Kenapa keadaannya seperti ini, Ustadz Kamil? Kok robek?”
“Itu disobek oleh Fara sendiri, Ustadz. Di sebelahnya itu seharusnya ada Ustadz Fahry. Fara yang menyobek sebagian fotonya. Bagian foto Ustadz Fahry dia koyak-koyak lagi jadi serpihan kecil-kecil.”
Foto itu Agil terima dengan bonus galau yang langsung menjalari sukma. Kenapa Fara begitu menyedihkan di foto itu? Agil seperti mengaduk-aduk sendiri jiwanya. Mata batinnya keruh karena galau terus berkecamuk dalam hati Agil seperti angin puting beliung yang mengaparkan pepohonan mencerabut rumput-rumput dari akarnya yang telah tertanam dalam.
Di dalam foto itu tampak jelas sosok Fara yang menangis. Mata Fara merah. Wajahnya terlihat basah. Agil bisa melihat dengan jelas banyak air mata di wajah Fara.
Adam mengusap wajah Fara di foto itu.
‘Ya Rabb.. betapa inginnya aku menemaninya terus. Menggetarkan kisi-kisi kalbunya hingga tak ada jeda untukku lihat kembali rekah senyumnya. Aku tidak rela melihatnya seperti ini,’ isak Agil dalam hati.
Setelah puas memandangi foto Fara, Agil memutuskan mengembalikannya pada Ustadz Kamil. Ia menyodorkannya dan Ustadz Kamil mengambilnya kembali.
Ustadz Kamil bingung kenapa foto itu justru dikembalikan padanya. Tapi ia urung bertanya. Ia paham kondisi hati Ustadz Agil. Sahabatnya.
Andai engkau tahu
Betapa penat jiwaku
Begitu sarat bebanku
Penuhi rasaku
Dulu aku kira
Kau pasti lebih bahagia
Saat kau pilih cintanya
Ternyata… ku salah
Semakin kau jatuh
Dan ku seakan terbunuh
Sesungguhnya aku rela
Asalkan kau bahagia
Jalani hidupmu dengannya.
Namun sungguh ku tak rela
Bila engkau tersiksa
Biarkan cintaku menjagamu seumur hidupmu…
(Seumur Hidupmu-Element)
---@@@----
Rencana resepsi pernikahan Fara dan Ustadz Fahry akan dilaksanakan tanggal 20 Sya’ban. Sedangkan sehari sebelumnya, tanggal 19 Sya’ban, Agil harus kembali ke Pesantren Ulul Albab Situbondo. Dia harus menghadiri rapat terakhir guru tugas untuk membicarakan masa selesai tugas. Agil pamit sepagi mungkin pada Kyai. Selepas shalat subuh. Selesainya dari rapat di Pesantren Ulul Albab itu, Agil pulang ke rumahnya di Lumajang.
Tanggal 20 Sya’ban sore, Agil sedang membaca buku di beranda rumahnya yang menghadap gunung semeru. Tampak di depan Agil, diorama Semeru berbalut halimun tipis. Juga bentangan luas sawah padi yang masih hijau lengkap dengan beberapa ekor kerbau di kaki gunung menyempurnakan keindahannya. Agil kerap kali berlama-lama duduk di beranda rumahnya hanya untuk menikmati suasana damai dari keindahan seperti ini.
Tiba-tiba Agil mendengar suara dering handphonenya di dalam rumah. Ia bangkit. Ditaruhnya buku Supernova yang tadi dibacanya ke atas meja. Ia masuk untuk mengambil handphone.
Nomor sepupu Fara.
Agil ragu. Mau apa lagi Fara, pikirnya. Ia ingin lepas dari bayang-bayang Fara. Ia tidak boleh muncul lagi di kehidupan Fara. Agil membiarkan saja handphonenya berdering berkali-kali. Ia enggan untuk menjawab telfon Fara.
Setelah berkali-kali panggilan itu tidak Agil jawab, kamudian ada pesan masuk. Agil membukanya.
‘Aslm.. ini Saroh, bibinya Fara. Fara sampe skrg blum mau keluar kamar utk ke kuade dan gak mau makai gaun. Dia cuma nangis2 terus & beberapa kali minta smpeyan ngangkat tlfn. Saya mohon.’
Baru saja Agil selesai membaca SMS tersebut, handphonenya berdering lagi. Masih panggilan dari nomor yang sama.
Agil menekan tombol Yes handphone.
Agil tak bisa mendengar apapun selain suara orang merintih menangis terisak-isak. Agil pun juga tidak berkata apa-apa. Setelah sepuluh menit berlalu, baru Fara bicara.
“Maafin saya, Ustadz!” Suara Fara terdengar parau sekali. Terdengar jelas ia sudah kehabisan suaranya akibat terus-menerus menangis. Lalu telfon ditutup dari seberang sana sebelum Agil sempat mengucapkan apapun.
Setitik air mata jatuh. Hanya setitik. Menoreh gelisah. Melukis luka. Dan senja di ufuk baratpun semakin memerah….
Resepsi yang sedianya meriah tampak seperti neraka di mata Fara. Pelaminan yang sudah didekorasi sedemikian megah tidak ada yang menempati. Mempelai pria sibuk bersenda dengan para tamu. Ia tidak mungkin duduk di sana sendirian karena hingga petang ini mempelai perempuan tidak juga keluar dari kamarnya untuk bersanding dengannya di kursi pelaminan.
Hingga petang ini, Fara masih terus-menerus menangis di kamarnya. Bi Saroh juga masih sibuk membujuknya untuk mengenakan gaun dan duduk di pelaminan.
Dekorasi ruangan memang mewah. Tapi terlihat begitu suram bagi Fara. Sesuram hatinya. Rumah Fara mulai dipenuhi saudara, teman-teman, tetangga-tetangga dan kawan-kawan kerja Pak Arman sedari usai siang tadi. Pak Arman dan ibu Arman berbaur bersama mereka. Mengobrol entah apa. Suara mereka terdengar riang. Dari sudut ruangan Fara dapat melihat dengan jelas ayahnya tertawa-tawa bersama pria paruh baya gemuk berjas biru. Syahrul entah di mana. Mungkin ada di ruang tengah. Di luar ada ibunya menyambut tamu yang datang.
Duhai lara… mengapa kau sentuh jua jiwanya?
Fara ingin berlari. Berlari. Sejauh ia bisa berlari. Berlari. Terus berlari. Membawa pedih perih. Dan tak kembali. Tapi harus kemana kakinya ia bawa berlari? Semakin ia berlari dari semua ini, semakin nyata kepedihannya.
‘Agil…. Aku seperti Zaara yang dipaksa terpisah dari Veer selama berbilang tahun. Masih tetap kan kusimpan ‘cinta’ itu menjadi siksa jiwa. Aku tak peduli itu menyiksa, tak kuhiraukan meski sering membuatku menangis…’ Rintih Fara dalam hati.
Fara terus mencoba tuk membunuh rasa sakitnya. Tapi selalu hanya keparahan yang Fara rasakan….
Fara terus saja menangis. Hatinya menjerit. Sakit! Wajah Ustadz Agil berpendaran di ruang matanya. Jalannya acara tak lagi ia peduli. Apa yang bisa ia lakukan selain membenamkan rasa sakit ini jauh ke dasar dada. Ya, Fara hanya bisa menahan perih itu dalam-dalam. Sendiri.
Genap sudah air mata. Begitu banyak kisah yang terpendam di sebaliknya. Tentang senandung rindu tak usai, kasih tak sampai. Kerinduan untuk dimanjakan dan berjuta keinginan. Mengapa Pak Arman campakkan begitu saja seakan tiada harga?
Selepas Maghrib, datang mobil Kyai Mahmud Zarkawi. Namun ternyata, hanya KH. Mahmud Zarkawi yang tampak turun dari mobil tersebut. Sendiri. Bahkan tanpa ditemani supir keluarga ndalem. Dari semua keluarga ndalem PP. Hidayatul Muqorrobiin., yang menghadiri resepsi pernikahan Ustadz Fahry dan Fara hanya Kyai Mahmud Zarkawi. Ia datang seorang diri. Keluarga ndalem yang lain tidak berkenan untuk hadir karena kurang setuju Fara dengan Ustadz Fahry. Mereka lebih setuju Fara, khodimah kesayangan keluarga mereka bersanding dengan Ustadz Agil.
---@@@-------@@@----
Teman, dengan kredo cinta kita mengenal-Nya. Kronologis itu telah mendewasakan kita, bukan? Bahkan telah mengantarkan kita untuk jalin interaksi yang lebih bijak menurut Sang Pencipta. Aku menulis dengan Laa Haula Wa Laa Quwwata Illa Billah.
Bukan karena kriteria aku menghiasi hidup dengan segenap perhatianmu. Seperti yang kau katakan, hanya hati yang menautkan kita. Friday, hari itu kuterima kamu apa adanya. Pasca bulan kesucian yang membuatku hampir saja lumpuh, namun alunan lagu yang kerap kali aku putar via winamp “tak ada yang tak berharga sesuatu yang turun dari langit”.
Kancah pertempuran itu hampir saja selesai, kamu kalah dan aku terkapar tak berdaya, dia orang bahagia di atas penderitaan kamu yang akan membawa semua harta jarahan.
Aku turuti kemauan orang tua karena aku dibesarkan dalam tradisi itu. Sikap yang ber-over protection dari mereka menjadi beban moral yang sangat, bahkan membuat aku hampir lumpuh kembali setelah kelumpuhan dulu mampu kunetralisir. Aku tetap mendekat pada mereka, orang tuaku serta guru-guru dan Insya Allah takkan lupa dalam do’a. Mereka bagiku adalah pendidik jiwa dan ruh dan aku mencoba terapkan kaidah dari sahabat Ali r.a, aku adalah budak mereka.
Malam setelah kronologis yang kurang berkenan di hati kamu, semua di sekelilingku tak bersahabat lagi denganku. Aku mencoba kenali cinta Tuhan melalui duduk simpuh malam itu, kutemukan kedamaian dengan cahaya bulan dan bintang. Dalam rangkaian do’a semoga kita tergolong yang mensucikan diri serta hati.
Kamu yang mengisi hariku satu tahun kemarin kuberi laqob kesempurnaan “kaulah sang mentari yang menyinari pagi”.
Bukan! Itu hanya alunan lagu. Kamu cukup dengan tiga suku kata men-ta-ri dan kamu pun cukup dengan kamu karena mentariku kini bukan kamu lagi. Semoga mentariku yang kini mampu membawaku pada keridlo’anNya. Semua itu anugerah, teman. Kulihat kamu lebih dekat saja dengan Sang Khaliq, semoga itu benar.
Ambil sikap yang ideal di mata Tuhan dan makhluq-Nya, dengan memperbaiki diri dan hati untuk menyambut esok yang lebih baik, itu jalan terbaikku.
Kukembalikan semua buku dan diary ini padamu. Tak berguna jika masih kubawa. Takkan nyata walau harus dipaksa. Kuharap kamu bisa menyelesaikan lembaran kisah ini dengan keindahan-keindahanmu. Isilah risalah dengan cerita yang selalu bahagia dan akan membuat bahagia. Kini tak pantas lagi ceritaku ditulis, karena jalan kita telah berbeda.
Maafkan aku sang krido kasih, terima kasih curahan kasihnya. Pun aku haturkan pada para pejuang kasih, terima kasih atas pengorbanannya. Aku ingin awali segalanya. Semoga kita masih dalam rangkaian do’a ummatan Muhammad hingga kita dapat Ridlo Allah, orang tua, serta Masyayich. Amin.
Sampul diary biru itu menutup pelan. Tangan lemah Agil yang menutupnya. Dalam hati, cukup dalam hati saja, Agil membaca doa.
‘Barakallahu laki wa baaraka ‘alaiki wa jama’a bainakuma fii khoiir….’
Matanya sudah basah sejak tadi. Tanpa isakan. Tapi Agil sudah mampu tersenyum kini. Senyum paling tulus dari jiwanya yang ia persembahkan untuk Fara, bintang terindah di langit hatinya.
Walau ghibta’an bashori wa jismy walakin anti la taghitsu bi qolby…
THE END
Dia tak peduli apa kata mereka
Dia tetap mencintai cinta
Dia tak putus asa melawan coba
Karena dia mencintai cinta
Dia tetap bahagia
Walau cinta bukan untuknya
Karena dia mencintai cinta
Dia tetap tertawa walau luka menganga di dada
Karena dia mencintai cinta
Tanpa peduli apakah cinta bersamanya terlahir untuknya
Atau
Bahkan tidak dimilikinya
Cinta tetap di hatinya
Cinta tetap di jiwanya
Cinta tetap dicintainya
Karena dia terlahir untuk mencintai cinta
Sebenarnya cinta itu simpel tapi teramat luas.
Bukan hanya lewat kata-kata, tapi penuh keikhlasan rasa.
Cinta adalah kerelaan hati,
Saling menerima dan memberi
Bukan saling mencaci.
Biar tak saling memiliki, cinta tak harus membenci.
Meski tak bersanding, cinta tak harus menyakiti.
Meski cinta tak bersatu,
Meski perih yang terasa,
Cinta tetaplah cinta.
…karena Cinta adalah perasaan jiwa, merasa bahagia bila orang yang kita cintai bahagia…
Bandung, 14 Juni 2009_04:03 PM
Untuk semua cinta yang pernah kurasa….


Tidak ada komentar:
Posting Komentar