Minggu, 25 Oktober 2009

Atas Nama Cinta Kutitipkan Maafku Padamu

Oleh: thiya_renjana         

“Kita putus, Ve,” ucap Ergi lirih. Ve mendongak tak percaya. Ve menunggu Ergi mengucapkan kalimat maaf. Ia berharap Ergi telah salah bicara atau setidaknya hanya menggodanya, namun Ergi tak jua meralat ucapannya. Mata Ve mulai berkaca-kaca dan selanjutnya ada butir-butir bening merembes dari sudut-sudut matanya. Air mata dari samudera dukanya. Ve tak bisa menerima keputusan sepihak itu.
            “Apa kita tidak bisa mencoba perbaiki lagi?” Ve berharap.
            Ergi menggeleng sambil menunduk. “Kita berbeda, Ve. Aku nggak bisa nerusin hubungan ini,” ucap Ergi lagi.
            Ve mulai sesegukan. Ia tak menyangka kalau ia yang sangat mencintai Ergi tiba-tiba harus kehilangan dia. Kehilangan hatinya, kehilangan raganya. Ve tersungkur di depan Ergi. Malam di pantai makin kelam, sekelam hati Ve dan Ergi. Menyaksikan mereka kembali pada kehancuran hati.
          Langkah Ve gontai. Berkali-kali ia hampir jatuh meski jarak antara pintu mobil Ergi dan gerbang rumahnya sangat dekat. Malam ini bagai malam di mana ia harus terjun ke dalam palung kehancuran. Sebagian jiwanya telah terpisah di malam ini. Ve menangis semalaman. Ia menangis karena memang seharusnya ia menangis.
            Esoknya mata Ve masih sembab. Badannya mulai panas dingin. Kepalanya terasa nyeri. Mama sudah berkali-kali mengelap keringat Ve. Dia demam. Ve tak menyangka, begini rasanya patah hati?
            Ve masih berharap Ergi datang padanya, sebagaimana hari-hari mereka yang masih sewarna pelangi. Menunggui Ve yang tertidur setiap kali Ve jatuh sakit. Meski untuk itu, Ergi harus rela bolos sekolah. Tapi kini semuanya hanyalah puing-puing di terik siang yang tak bisa ia pungut lagi.
--(^_^)—
            Ve sedang duduk di sudut bangku taman sekolah saat melihat Ergi melintas di depan Ve bersama seorang gadis adik kelasnya tanpa menggubrisnya. Tanpa memandangnya apalagi mempedulikannya!!
            Ve terhenyak. Secepat itukah Ergi mendapatkan pengganti dirinya. Berarti perbedaan yang dimaksud Ergi adalah bahwa Ergi tidak lagi mencintainya. Ergi sudah punya orang lain!
            Detik itulah dirinya merasakan ketakberdayaan yang sangat. Ve mengedipkan matanya menahan agar kristal bening tidak melukis air di pipinya. Dia menahan ruahan air matanya dalam diam, membenamkan seluruh kepedihan hatinya.
--(^_^)—
            Kini Ve merasa, sekolah adalah neraka baginya di mana Ergi selalu memamerkan kemesraannya bersama gadis lain di depan Ve.
            Tapi Ve harus tahan. Berpura-pura buta dan tuli. Ya, dia harus bertahan. Mana lagi pilihan yang paling tepat selain bertahan dalam rasa sakit? Meski jauh di lubuk hatinya ada berjuta sembilu tengah merujit-rujit perasaannya menjadi debu. Hancur.
            Perlahan rapuh meranggas jiwanya hingga raga lelah dan kalah. Pupus segala harap, melukai indahnya impian masa depan. Di sini, di pantai inilah kebersamaan terakhir dengan Ergi. Perih ditatapnya setiap sudut pantai, apa yang tampak seperti ingin bercerita. Hati kecilnya ingin berontak, namun kenyataan tak dapat dihalau dengan mudah. Tak kuasa jiwa menahannya, tumpah dalam derai air mata. Kini relung itu tinggal puing-puing berserakan……
--(^_^)—
            “Hai… Kamu yang bernama Neeve Jasmin Latheefah, kan? Kenalkan, aku Rey,” seorang cowok menghampiri Ve yang baru selangkah keluar dari kelasnya.
            Ve tak peduli. Ia tahu kalau namanya Rey. Siapa di sini yang tidak kenal Rey. Meski tak sekeren ketua OSIS atau kapten basket di sini, tapi wajah ‘Tyo Nugross’-nya cukuplah membuat Rey masuk jajaran cowok beken di sekolahnya.
            “Ya, benar. Ada apa, ya?” Tanya Ve sambil berjabat tangan.
            “Kamu yang memenangkan lomba mengarang di ‘Sayembara Novel Nasional Dewan Kesenian Jakarta 2006’ itu, kan? Aku pengurus mading meminta kamu untuk mengisi rubrik ‘Yang Muda, Yang berprestasi’. Berbagi pengalaman dan rahasia suksesmu di mading kami.”
            “Tapi aku cuma juara II, kok,” Ve mencoba berkelit.
            “Why not? Aku udah baca novel karyamu yang diterbitkan oleh penyelenggara lomba itu. Very good, I think. Malah kalau kamu mau, kami ingin mengajakmu gabung di kepengurusan mading sekolah.”
--(^_^)—



            Hari-hari baru sewarna pelangi menanti di sekolah. Hari baru, warna baru, kesibukan baru. Ya, Ve punya kesibukan baru kini. Menjadi pengurus mading. Dan persahabatannya dengan Reypun semakin dekat dengan tanpa disadari.
Hingga di suatu pagi…
Yang aku inginkan tak begini
Yang kuinginkan kau hadir di mimpiku
Meski hanya menyapa lalu pergi
Yang aku inginkan bukan seperti ini
Yang aku ingini kau sapa hari-hariku
Genapi nuansa hatiku
Tapi yang kuingin tak jua jelma reality
Dan kau lebih tak mau peduli

(Dedicated to my love, Neeve)

Ve membaca puisi itu di tengah-tengah kawan-kawannya yang mengerubunginya sambil sibuk menggodanya. Ve membaca nama pengirim puisi di mading itu. Di sana tertulis, REYHAN!
--(^_^)—
Malam mulai menyelimuti bumi
Tapi resahku tak terlera lagi
Paku-paku air telah luruh basahi
Menghujam tiap gendang sunyi

Gundahku meruyak telak
Mengepakkan tembang serak
Biarkan terdera
Atau panasnya kan berurai
Ke tiap ujung
Meski urung
Jiwa melarung…

Ve memainkan ballpointnya setelah puisi itu rampung ia tulis di diarynya. Raut wajahnya kuyu dan kusam. Mata sembab menyisakan isak tangisan. Kepedihan masih terasa menyayat dan menggurat, menghela tumpukan gundah di dada yang semakin membuncah. Dalam memorynya, terbentang serpihan siluet kenangan…
Pagi tadi, Jane, gadis gandengan baru Ergi datang menemuinya. Meminta Ve untuk mau menemui Ergi dan kembali padanya karena sesungguhnya Ergi masih sangat mencintai Ve.
“Pantaskah bagiku menerima cintanya? Aku tak sanggup tuk hadirkan bayangnya di sini. Di tiap malamku. Karena dia telah berkali-kali menyentuh lukaku yang hendak mengering. Perih. Sakit sekali rasanya. Seperti menggarami luka yang nganga!” Ve meradang.
“Tapi tolong temui dia, Ve. Setidaknya, maafkanlah dia. Semua yang ia lakukan bukanlah tanpa alasan. Ada sesuatu yang membuatnya berfikir untuk lebih baik berpisah denganmu. Tapi selama itu, ia tak dapat menahan kerinduannya padamu.”
“Sesuatu? Sesuatu apa? Bukankah sesuatu yang telah mengubah Ergiku selama ini adalah kamu! Iya, kan?” Ve berkata di antara tangisnya yang tanpa isakan. Tangis kepedihan yang membuncah dari lubuk hatinya terdalam.
“Tidak, Ve. Bukan itu! Tolong dengarkan aku!!” Suara Jane meninggi. “Akupun tahu kalau kau masih mencintainya.”
“Aku tidak perlu mendengar apa-apa lagi darimu,” potong Ve. “Aku memang mencintainya, tapi sebagai masa lalu. Aku telah lama menganggapnya hilang, berlalu bersama masa laluku. Masa sekarang bagiku adalah Rey, orang yang setia menghimpun serpih-serpih hati yang terlanjur terserak. Perhatiannya selama inilah yang mengajarkanku tentang arti tegar! Sehingga aku dapat bangun lagi dari keruntuhanku. Sungguh tak ringan menatap bentangan jalan di muka tanpa Ergi. Tapi adanya Rey di setiap langkahku yang membuatku kuat menahan segala pedih dan lara yang Ergi ciptakan sendiri!” Cerca Ve dengan beruntun. Tak menyisakan waktu tuk Jane membela diri.
Dan Jane pun hanya bisa terpacang tegak, menjadi arca batu yang bergetar menahan pilu. Wajah Ergi yang pucat berpendaran di matanya. Terbayang percakapannya dengan Ergi di sebuah kamar Rumah Sakit tadi malam.
“Ayolah, Ergi. Biar kujemput Ve untukmu. Biarkan dia tahu hal yang sebenarnya. Biar Ve tahu kalau kamu masih sangat mencintainya dan tak pernah rela kalau dia disakiti.”
“Tidak, Jane. Biarlah seperti ini saja. Bukankah lebih baik kami berpisah sekarang daripada nanti ia semakin sedih atas kepergianku. Biarkan ia menjalani kehidupannya yang sekarang. Tidak adil rasanya bila kini aku mengharapkan cintanya kembali setelah apa yang pernah aku lakukan padanya.”
“Tapi, Gi…!”
“Cukup, Jane. Meski cinta itu masih ada. Meski rindu itu masih menyala. Tapi aku harus melarung rasa itu jauh-jauh. Lagi pula sekarang ada Rey di sampingnya. Aku lihat Rey tulus menjaga Ve,” ujar Ergi lirih.

Jane tersentak. Lamunannya buyar saat dilihatnya Ve hendak pergi.
 “Please, Ve. Dengarkan aku,” suara Jane bergetar menahan tangis. Jane meneruskan ucapannya. Tak dipedulikannya Ve yang membuang muka.
“Bukan ini yang Ergi inginkan. Menyakiti orang yang sangat ia sayang. Kau harus tahu itu. Semuanya memang sengaja ia lakukan agar kamu bisa melupakannya. Aku adalah saudaranya, ia anak dari saudara tanteku. Ergi memohon agar aku tidak menceritakan pada teman-teman bahwa aku adalah saudaranya sehingga dia dapat memintaku berpura-pura menjadi pacarnya,” Jane menarik nafas dalam-dalam. Mencoba menyingkirkan sesak yang sempat mendera.
“Dan Rey… sesungguhnya dia juga sahabat Ergi. Ergi tahu kalau Rey juga menyukaimu. Maka Ergipun meminta Rey agar menjagamu. Menggantikan Ergi sebagai pelindungmu, Ve.”
“Apa maksudmu?” Ve urung melangkah pulang.
“Maksudku adalah…. Semua ini Ergi lakukan agar kamu tidak bersedih ketika Ergi harus pergi. Dokter telah memvonisnya tidak akan hidup lama karena penyakit kanker darah yang ia derita.”
Deg! Ve tercekat. Ia tak pernah menyangka kalau Ergi yang sengaja menyusun semua skenario ini agar Ve tak pernah tahu penderitaan Ergi dalam sakit yang disembunyikannya. Kanker darah? Sungguh. Ve tak pernah tahu itu. Hati Ve tergetar. Pikirannya mendadak kacau. Ve tak kuasa menggerakkan kedua bibirnya, meski untuk sepatah kata.
--(^_^)—


Di sini tak ada lagi resah. Tak ada lagi gundah. Orang-orang telah pulang sedari tadi. Di sini, di tempat ini. Ve masih terduduk di depan gundukan tanah yang masih merah. Ada Rey dan Jane di belakangnya. Tubuh Ve bergetar karena tangis yang tertahan, hidung dan matanya memerah lalu bulir kecil bening dan hangat kembali membadai dari matanya.
Sesuatu yang berat semakin memberat ketika Ve harus melihat nama Syah Ergi Pahlevi tertera di papan nisan di depannya.
Sesuatu itu bernama penyesalan. Penyesalan yang teramat sangat, karena Ve tak pernah sempat meminta maaf kepada Ergi. Tubuh Ergi sudah ditutupi kain putih saat Ve tiba di rumah sakit. Meninggalkan rasa bersalah yang tak berhingga. Menggurat resah. Melukis sketsa luka. Dan mega di ujung baratpun semakin memerah…..


Ganjaran, 25 April 2006/ 03:10 PM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Buku Tamu
Link To Me
Nasihat / Comment
Jejak Komentar
EDIT TAB 5
   Koridor Silaturahim Kaukaba Zone