Minggu, 25 Oktober 2009

Kiara



Kiara terperanjat. Ia merasakan kehampaan tiba-tiba memenuhi dadanya. Ia merasakan pikiran buruk mulai memenuhi benaknya. Ia merasakan sesuatu hilang dari dirinya. Butiran-butiran air bening ia rasakan mengalir hangat dari matanya membasahi wajah dan kain jilbab birunya. Ia tidak tahu untuk alasan apa air matanya bergulir dari kelopak matanya. Ia juga tidak tahu untuk alasan apa ia berdiri di sini sepanjang hari ini. Menunggu entah apa. Menunggu sesuatu yang akan hadirnyapun tiada pasti. Ia tak bisa menjelaskan kenapa ia melakukan itu semua. Satu-satunya yang ia rasakan ialah kenyataan tak tersanggah bahwa lantaran ia kini telah tiada lagi sempurna, ia tak bisa lakukan lagi apa yang telah menjadi nafasnya selama 12 tahun.
Selainnya itu, yang ia rasakan hanya kebingungan setiap melihat sesuatu di depan bentangan cermin kamarnya setiap ia bangun tidur. Mendapati bayangan dirinya di cermin itu telah begitu berbeda dari dirinya beberapa minggu yang lalu.
Orang yang sedianya ia harapkan untuk bisa selalu menguatkannyapun entah sedang berada di mana. Ia seperti menghilang setelah mengetahui apa yang menimpa Kiara beberapa minggu lalu. Seperti menghindar…..

--(^_^)--

Biola kesayangannya tergeletak begitu saja di atas tempat tidurnya. Kiara merasa begitu rindu untuk menggeseknya lagi. Menciptakan alunan nada-nada yang sangat ia cintai. Nada-nada yang selama ini selalu wakili nuansa hatinya. Tapi kini tak akan bisa lagi.
Kiara mendesah. Tak ada gunanya disesali. Tapi entah kenapa dia hanya ingin menyendiri selama seminggu ini.
“Non, Kiara… Sama Nyonya disuruh makan dulu.” Suara Bibi Isna memanggil dari balik pintu kamar.
“Kiara kenyang, Bi.”
“Jangan gitu, Non. Dari tadi pagi Non Kiara belum sarapan. Nyonya takut Non Kiara semakin sakit.”
Kiara memaksa diri untuk bangkit menuju pintu. Dia membukanya perlahan. Lalu mengangguk pada Bibi Isna saat dilihatnya ia masih berdiri di situ.


--(^_^)—

Susah payah ia coba yakinkan diri sendiri. Kiara membacanya sekali lagi. Di lembar itu benar-benar tertera jelas namanya. NAMANYA! Sebagai penyanyi dalam acara penyambutan Bapak Walikota dan para pejabat daerah di kota Palembang ini.
Tulisan itu membangkitkan kenangan lama. Kenangan yang entah kapan bisa terlupa dari sudut-sudut ingatannya yang usang. Kenangan yang membuatnya harus melupakan bisa menggesek biola kesayangannya lagi untuk selamanya.
Saat itu, guyuran hujan turun deras di luar. Jalanan basah. Kaca jendela pun tak luput dari basahnya embun hujan.
“Jangan pergi, Kiara. Mama mohon untuk satu kali ini saja kamu gak memenuhi undangan pertunjukkan. Gak usah dipikirkan bayaran yang akan kamu dapatkan nanti di sana. Kamu kan masih punya banyak job di tempat lain.” Mama menukas tak sabar. Tak heran bila ia begitu mengkhawatirkan Kiara, anak perempuan satu-satunya dari delapan orang putra-putrinya.
“Nggak, Ma. Kiara bukannya mikirin bayarannya nanti. Karena di acara  ini, Kiara gak dibayar. Di sana, Kiara murni tampil untuk kegiatan amal. Sayang kalo sampe Kiara melewati acara amal terbesar di kota ini, Ma. Apalagi nanti akan dihadiri Bapak Presiden dan wakilnya beserta semua pejabat daerah. Bukankah suatu kehormatan besar kalo Kiara bisa tampil di depan orang nomor satu di negeri ini, Ma.” Kata Kiara panjang lebar mencoba meminta pengertian Mamanya.
Tapi hati Mama Kiara tetap tidak bisa tenang. Naluri keibuannya terusik. Mama Kiara merasa berat melepas Kiara pada malam dengan derasnya hujan seperti ini. Entah kenapa.
“Mama gak usah terlalu khawatirin Kiara. Lagipula, Kiara kan gak pergi sendiri. Ada Bang Jevier yang nganterin Kiara.” Kiara masih membujuk.
“Iya, Ma.” Satu suara tiba-tiba muncul dari balik pintu. Mama dan Kiara menoleh berbarengan.
“Horeee!!!” Pekik Kiara sumringah.
Dan Kiarapun tetap pergi bersama Jevier yang sudah rapi dengan setelah jas birunya. Tapi Mama Kiara masih tak bisa tenang meskipun tak bisa berbuat apa-apa untuk menahan kepergian putra-putrinya.

Di aula besar kantor Bupati Sumatera Barat itu, Kiara berhasil mempersembahkan penampilan terbaiknya. Tepuk tangan menggema ke seluruh ruangan. Dari atas pentas, Kiara dapat melihat Kakaknya, Jevier berdiri menari-nari sambil mengacungkan kedua ibu jarinya tinggi-tinggi. Senyum Kiara semakin terkembang melihat ulah Kakak nomor duanya itu yang seperti anak kecil berbaju formal.
Seusai acara, Kiara langsung menghambur pada Kakaknya.
    “Ayo langsung pulang, Ra,” ajak Jevier. Tangannya meraih bahu adik perempuan satu-satunya itu.
“Iya, Kak.”

Di jalan…. Hujan menjadikan jalanan licin. Diperparah dengan banyaknya genangan air di sana-sini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Buku Tamu
Link To Me
Nasihat / Comment
Jejak Komentar
EDIT TAB 5
   Koridor Silaturahim Kaukaba Zone