Kebahagiaan adalah ketika hati merasa tenang. Ketika bias-bias damai merasuk dalam sukma dan mengembangkan sayap cintanya, itulah bahagia. Aku tidak merasakannya saat ini. Aku masih tak percaya karena atas nama kebahagiaan aku pergi dari rumah. Meninggalkan Bapak, Mamah, dan kakak adikku yang belum sepenuhnya mengerti definisi bahagia.
Aku ingin lepas dari belenggu yang sekian lama menjeratku. Jerat yang membuatku tertatih-tatih menjalani hidupku. Aku lelah. Garis hidup atau nasib memang tak selamanya lurus. Aku sedang berada di tikungannya sekarang. Tikungan yang membingungkan sehingga aku tak tahu akan melangkah kemana.
Hidup adalah perjuangan. Perjuangan untuk mencari jati diri. Tak ada orang yang bisa mengatur hidup kita siapapun dia. Tak juga orang tua. Dan aku telah menentukan pilihanku. Aku tidak mau hidup seperti burung dalam sangkar emas. Menjadi piaraan orang-orang yang tidak bisa memahami arti sebuah kebebasan. Luka. Pengorbanan yang selama ini kubangun demi sebuah harapan, tak memberiku balasan seperti yang aku inginkan.
Butir bening itu meluncur, menyisakan luka yang perih di hatiku. Aku tidak tahu kepada siapa akan mengadu selain kepada-Nya. Ujian itu selalu datang beruntun, datang silih berganti umpama malam yang menggeser siang. tapi kehidupan tak akan berjalan kan jika keduanya tiada? Pun ujian yang Allah berikan. Semuanya akan selesai dengan meninggalkan kesan yang membekas, karena selalu ada hikmah di balik musibah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar