Minggu, 25 Oktober 2009

Bila Hujan...



Bila hujan…
Aku selalu tersenyum sendiri kala teringat kekonyolanmu di halte bus simpang tiga itu. Aku sedang berdiri gusar di sisi jalan raya yang padat menanti datangnya bus kota. Suara deras hujan bercampur dengan deru lalu lalang kendaraan. Percikannya sedikit mengotori ujung rok panjangku. Kamu lalu menghampiriku.
“Nunggu bis apa angkot, Neng?” sapamu pertama kali. Aku acuh. Kupikir kamu hanyalah pemuda-pemuda iseng yang hanya menggodaku.
“Neeeenng…. Mau kemana?? Naik bis apa angkot?” tanyamu lagi. Kali ini lebih dekat ke arahku.
Aku merasa terusik, “ nunggu angkot ke Soreang.”  Jawabku singkat. Sekenanya.
“Akhirnya dijawab juga. Kirain bisu…”
Aku masih tak pedulikan dia. Kupandangi layar jam tangan digitalku. Pukul 17:05 WIB. Aku beralih menatap langit. Awan abu-abu pekat sempurna menjangkiti angkasa. Gelap. Sepertinya akan lama hujan ini reda.
“Masih lama kayaknya hujannya selesai, Neng. Bisa sampe ntar malem.” Ucapmu menambah kegelisahanku. Di halte ini hanya tinggal kita berdua dan seorang pria setengah baya pedagang asongan. Aku semakin takut. Kalau aku kemalaman sampai rumah, bisa-bisa dimarahin Ayah.  Masih dengan alasannya seperti biasa, ‘ Anak gadis itu tidak boleh keluar malam-malam’.
Aku menggigit-gigit bibir. Dengan bersidekap, aku berusaha menghalau dingin. Sekarang baru kusesali kelupaanku membawa jaket hari ini.


Dari sudut ekor mataku, aku dapat melihat laki-laki itu sedang menelfon seseorang.
“Nama saya Purnama, kamu?” Katamu tiba-tiba.
“Maaf, nggak tanya!” jawabku ketus.
Kamu terkekeh kecil. Lalu melanjutkan, “ya terserahlah kalau nggak mau bilang namanya siapa. Itu berarti lebih mudah untuk saya. Jadi saya bisa manggil kamu apa aja.” Ia kembali tersenyum.
“Mau kemana Jeng Kelin?” katamu lagi.
Aku terkejut, melotot sebentar lalu istighfar dalam hati. Orang ini tidak perlu aku ladeni, pikirku.
“Kok nggak dijawab sih, Jeng?”
“Nggak merasa ditanya sih!” tukasku.
“Ya habisnya saya nggak tau nama kamu. Nggak suka ama nama Jeng Kelin? Bagaimana kalau Humairo’? Abis muka kamu kemerah-merahan gitu”
Aku sadar pasti wajahku memang kemerahan. Tapi bukan karena malu-malu, melainkan karena kesal. “Saya punya nama. Panggil aja Ana,” kataku akhirnya.
“Oke. Neng Ana aslinya mau kemana sih?”
“Ke Pasir Jambu, Ciwidey.”
“Baguslah. Saya juga ke Ciwidey, ke depan alun-alun kota. Kita satu arah, kalau mau kamu bisa ikut saya aja. Tenang saja, saya nggak akan macam-macam. Tadi saya ditelfon adik saya. Dia juga akhwat seperti kamu. Jadi kita bertiga. Gimana? Daripada kamu menunggu angkot sampai malam di sini.”
Aku semakin gamang. Tapi akhirnya kuputuskan untuk menerima tawarannya. Aku juga tak bisa menunggu di sini sampai malam.

-----***-----

    Bila hujan…..
Aku selalu merasakan indahnya riak-riak tetes hujan yang menghujam bumi. Setiap kamu datang ke Pasar Pasir Jambu sore hari, pasti setelah itu hujan turun. Dan kamu terjebak di stand penjualan jilbab milik Ayahku, toko paling strategis untuk berteduh. Lalu kamu minta ijin duduk-duduk di situ menanti hujan reda. Aku dan Rani sahabatku tidak keberatan kamu duduk berlama-lama di sini.
    Keramahanmu membuat kita bertiga semakin akrab. Setiap kali kamu di sini, kamu selalu berhasil mengusir kepenatanku dan Rani menunggui stand Ayah dengan cerita-ceritamu tentang kehidupan. Pernah kamu bercerita tentang seorang pemuda yang tidak mempedulikan ibunya lalu menyesal seumur-umur saat mendapati kabar bahwa rumahnya di Meulaboh tersapu bencana Tsunami. Kamu selalu menyelipkan nasihat-nasihat dan hikmah di setiap ceritamu. Aku seperti sedang melihat seorang Ustadz gaul tapi syar’i pada sosokmu. Dan lalu kurasakan rasa kagumku padamu semakin lama semakin menambah dosisnya. Aneh memang.
    Dan kemudian, hari-hari kita selalu dilewatkan bertiga. Aku, kamu, dan Rani. Kemudian semuanya semakin indah kala kamu mengungkapkan niatmu untuk mengkhitbah diriku. Rani pun mendukungku untuk tidak meragukanmu lalu menerimamu.
Aku dan kamu terbiasa bersama menghadapi suka duka episode hidup. Walau pertengkaran kecil bermunculan. Mungkin karena egomu. Mungkin karena egoku. Cukuplah jadi lembaran hikmah...

-----***-----

    Bila hujan…
Aku selalu resah. Dan kalau ada resah yang tak bernama, mungkin resahkulah satu-satunya. Bermula saat hujan rintik-rintik di areal perkebunan teh Ciwidey. Saat itu adalah musim hujan ketujuh milik kita. Sungguh bukan waktu yang sebentar untuk membangun sesuatu yang berharga, sesuatu yang indah...
Katamu Palm Island yang luar biasa indah hanya dibangun dalam waktu 5 tahun... 5 tahun lebih singkat dibandingkan 7 tahun. Tentu bangunannya lebih indah dan menakjubkan. Pondasinya sudah masuk sampai dasar laut kehidupan dan mengakar kuat.
Siang itu aku tahu kamu akan pergi jauh. Sulit rasanya menjalani kehidupan tanpamu, apalagi saat sekarang… Saat orang-orang di sekelilingku menagih sumpah wisudaku, saat diriku terbiasa sibuk dan kini hanya diam. Saat tetangga semakin menertawakanku.
Kamu mengatakan tidak bisa lagi merajut harapan kita membangun keluarga menyempurnakan separuh agama. Ya, kamu memutuskan hubungan kita padahal kedua keluarga kita telah merencanakan semuanya akan dilaksanakan pada tahun depan setelah hari raya.
Tak terasa air mataku menetes saat kamu bilang akan pergi jauh. Entah apa yang aku pikirkan. Aku tidak bermaksud bersandar padamu, atau bersandar pada manusia karena hanya kekecewaanlah yang akan didapat bila bersandar pada makhluk. Namun di saat kamu akan pergi dan memutuskan harapan impian hubungan kita, mengapa harus ada sayatan kecil lagi.

-----***-----




Bila hujan…
Betapa sakitnya kalbuku. Memandang rinainya seperti memandang luka. Karena kini bagiku hujan adalah luka.
Perih!
Betapa bencinya aku waktu itu. Saat aku beserta lima kawan dari kelompok Remaja Masjid (IRMA) sedang berada di Gedung Sate Bandung pada hari Ahad pagi, aku menjumpaimu sedang asyik berbelanja di pasar kaget di sana.
Tentu saja aku langsung menghampirimu. Mempertanyakan kembali hutang janjimu pada kedua orang tuaku. Tapi betapa kagetnya aku, kamu menepis tanganku saat jarak pandang kita begitu dekat. Kamu menyuruhku pergi saja. Kamu bilang tidak ada perasaan apapun padaku seperti dulu.
Meninggalkan keluarga itu perih. Meninggalkan harta dan kesenangan itu sakit. Meninggalkan prinsip dalam hidup itu luka. Lalu bisakah seorang laki-laki membuang satu hal yang tidak disukai wanita...??? Bila itupun tidak bisa, haruskah peristiwa yang dulu terulang lagi…
    Awalnya aku ingin menyerah. Tak mungkin aku memohon-mohon padamu untuk kembali lagi ke pangkuanku. Tapi teman-teman IRMA mengajakku mengikutimu untuk mengetahui alamat sekarang kamu tinggal.
Tapi selanjutnya aku menyesal.
Betapa bencinya aku waktu itu, saat kumenemukanmu bersama Rani sahabat lamaku. Kedekatan kalian benar-benar menorehkan luka yang maha dalam di dadaku. Ia menyambutmu mesra ketika kamu tiba.
Hujan di langit masih turun rintik-rintik. Aku merasa begitu ingin petir menyambarku saat itu juga. Aku benar-benar tidak bisa mempercayai penglihatanku sendiri.

“Neng Ana????” Kamu terkejut bukan main saat melihatku menghampirimu di rumah kecil cenderung kumuh itu.
“Oh… jadi ini alasanmu meninggalkanku tanpa sebab dan Rani menghilang tanpa jejak?? Di sini rupanya kalian??” amarahku dengan suara tinggi. Rani terlihat takut, dapat kulihat dengan jelas wajahnya pias.
Kamu berusaha merengkuh tanganku, secepat mungkin kutepis. “Jangan sentuh-sentuh aku lagi, A’! Aku menyesal sudah kenal kalian berdua!” erangku. Aku gagal menahan airmata yang menderas di pipiku.
“Jangan salahkan Rani, Neng! Salahkan Aa’ saja, Neng. Saya yang menghancurkan kehidupan kalian berdua. Aa’ yang menyebabkan ibunya Rani meninggal dan Rani cacat seumur hidup.”
Aku terhenyak.
“Ibunya Rani? Mamah? Rani? Apa maksudmu, A’?”
Pandanganku beralih ke Rani. Aku baru sadar kalau Rani sedari tadi berdiri dengan menyangga pada kruk.
“Masuk aja dulu, Neng. Biar Aa’ jelaskan di dalam.”
Aku menurut. Mengikutimu dan Rani ke dalam beserta kelima kawan di IRMA. Rani berjalan terpincang-pincang dengan kruknya. Kamu dengan telaten menuntunnya, membantunya berjalan.
Di atas tikar lusuh kami duduk. Tentu saja tidak muat untuk kami berdelapan. Beberapa kawanku harus puas kedinginan dengan kondisi setengah duduk ke lantai.
“Lalu gimana ceritanya kok bisa sampe seperti ini, A’?” tembakku langsung. Kamu menghela nafas berat. Rani menunduk. Aku merasakan ketidaknyamanan di hatiku. Aku menggigit-gigit bibir. Gelisah. Bersiap dengan apapun yang akan kudengar.
“Neng… maafin Aa’ atas keputusan Aa’ yang tidak mengenakkan setahun lalu. Seminggu sebelum Aa’ menemui Neng, Aa’ dan adik A’ baru pulang dari Bandung. Entah bagaimana awalnya, semua terjadi begitu cepat. Di jalan A’ menabrak Ibu Lina, ibunya Rani. Lalu karena panik, A’ nyuruh adik A’ aja yang bawa Ibu Lina ke rumah sakit. A’ turun dari mobil dan pergi naik ojek ke rumahnya Rani. Dari rumah Rani, Aa’ membonceng Rani pake sepeda motor milik tetangga Rani. Ternyata kecelakaan Ibu Lina bukan satu-satunya musibah kita waktu itu. Di tikungan tajam Ciwidey, karena gugup, sepeda motor yang kami naiki terpental menyerosok jurang. Aa’ masih bisa bangun waktu itu tapi Rani langsung jatuh pingsan.”
Aku tak tahan lagi, aku sesegukan dalam pelukan Santi, kawan di IRMA.
“Dan akhirnya… akhirnya….” Suaramu kemudian tercekat. Kamu tidak bisa melanjutkan cerita itu. Kamu malah langsung menangis tersedu-sedu.
Rani kemudian menyibakkan rok panjangnya. Dan kemudian aku bisa melihat dengan jelas bahwa… bahwa… Sebelah kaki Rani tidak ada!
“Ya Allaaahhh…” aku berseru pelan sambil menghambur memeluk Rani. Rani sahabatku, kenapa sebegini malang nasibmu?
“Lalu bagaimana dengan keadaan Mamah?” aku terbiasa memanggil Ibu Lina dengan panggilan Mamah sejak aku dan Rani bersahabat dari kecil. Ibu Lina seperti ibu kandung bagiku.
“Ibu Lina… dia… dia meninggal!” tangismu semakin jadi seiring tangisku yang meledak menjadi-jadi.
“Sejak saat itu Aa’ merasa bertangungjawab atas hidup Rani. Aa’ yang menyebabkan Rani kehilangan semuanya. Ia jadi sebatang kara sekarang. Karena itu A’ memilih keputusan tersulit bagi A’, meninggalkanmu dan menjaga Rani.”s
“Di mana makam Mamah, A’?” kataku kemudian.

------------(^_^)----------------

Bila hujan…
Baru kusadari penyesalan itu lebih sakit dari apapun di dunia ini.  Di atas pusara Ibu Lina aku tersungkur. Aku tak mempedulikan hujan deras mengguyur area pemakaman ini. Aku menangis sepuas-puasnya di sana. Kucium-ciumi nisan Mamah.

Dengan menahan sesak dalam dadaku, aku tarik kamu menjauhi Rani waktu itu. Rani hanya duduk termangu memegang payungnya sendirian saat aku menarik tanganmu.
“Neng… maafin Aa’ udah menyakiti hati Neng.” Tubuh kita kuyup diguyur hujan. Aku yakin Rani tidak akan bisa mendengar sedikitpun ucapan kita karena derasnya hujan waktu itu.
“A’, aku udah tau semuanya. Aku ikhlas! Sungguh! Aku benar-benar ikhlas.” Aku menggenggam erat kedua tanganmu. Kamu tidak akan pernah tahu, betapa sulitnya menegarkan diriku saat itu.
Aku sudah lelah menunggu.. Aku tidak mau lagi kecewa karena cerita yang sama
biarlah 7 tahun berlalu begitu saja. Lalu apa artinya 7 tahun dibanding belasan tahun yang akan aku lalui bersama pendampingku. Biarlah hari-hari yang mengantarkan kesusesanmu dan hari-hari yang mengantarkan kesuksesanku berlalu..
Terimakasih telah mengajariku tertawa dan menangis. Terimakasih telah menjadi inspirasi.


Bila Hujan…
Aku selalu berharap kamulah pertama dan terakhir. Hal pertama, pengalaman pertama dan menjadi yang terakhir. Sehingga tidak akan ada Ruang untuk yang kedua...
Mungkinkah menjadi kenyataan...


Selesai di ruang kerja, Palasari 09/09/09_02:57 PM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Buku Tamu
Link To Me
Nasihat / Comment
Jejak Komentar
EDIT TAB 5
   Koridor Silaturahim Kaukaba Zone